FISIPERS – Di tengah hiruk-pikuk aksi di DPRD dan Kantor Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur, ada pemandangan yang berbeda dari biasanya pada 21 April lalu. Di antara barisan massa, kebaya-kebaya anggun hadir, menyatu dengan suara lantang perempuan yang menyuarakan aspirasi. Hari itu, Barisan Kartini Muda memilih cara yang tak biasa untuk bersuara yakni membawa budaya ke tengah ruang protes.

Bagi mereka, kebaya bukan sekadar pakaian. Kebaya menjadi simbol. Simbol keberanian, identitas, sekaligus perlawanan terhadap batasan yang kerap dilekatkan pada perempuan.
Gerakan ini bermula dari sesuatu yang sederhana. Radhika Darmawan, inisiator Barisan Kartini Muda, awalnya hanya membagikan campaign berkain melalui media sosialnya. Kemudian respon datang dari berbagai arah terlebih menjelang aksi 214.
“Jadi ga cuma mahasiswa, justru awalnya emak-emak yang ngehubungin aku, bilang mau ikut aksi gitu, ingin bersuara dari masyarakat, baru minta ayo dong berkebaya segala macem gitu, buat hadir turun aksi, akhirnya ku bikin lah barisan ini.”
Dari dorongan itu, Barisan Kartini Muda kemudian terbentuk menghimpun perempuan dari berbagai latar belakang, dari mahasiswa hingga ibu-ibu, yang sama-sama ingin hadir dan menyuarakan aspirasi mereka di ruang publik.

Radhika juga menyadari masih banyak anggapan yang meragukan ruang gerak perempuan, terlebih saat mereka tampil dengan identitas yang dianggap “membatasi”. Di dalam Barisan Kartini Muda, ruang publik menjadi lebih inklusif bagi perempuan. Kebaya yang dikenakan bukan diartikan sebagai penghalang gerak, melainkan penegasan bahwa perempuan bisa tetap kuat.
“Kerap kali orang-orang mengatakan bahaya pada perempuan, kalau wanita mau orasi berarti susah dong, terbatas dong geraknya? memangnya kenapa tidak? kenapa tidak kalau kita mau berkebaya? kerap kali itu hanya menjadi batasan kita untuk bergerak, dan itu yang mau saya lawan.” tuturnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan pesan yang ingin dibawa. Bahwa batasan yang selama ini dilekatkan pada perempuan kerap kali bukan sesuatu yang mutlak, melainkan stigma yang terus direproduksi. Lewat langkah sederhana, memakai kebaya di tengah aksi, Barisan Kartini Muda mencoba meruntuhkan anggapan tersebut.
Radhika juga berharap kehadiran Barisan Kartini Muda dapat menumbuhkan kepedulian terhadap budaya di berbagai lapisan masyarakat, khususnya di kalangan anak muda. Ia ingin gerakan ini menjadi dorongan agar generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga turut melestarikan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya.

“Aku kebetulan punya campaign berkain gitu, dan aku ingin ajak teman-teman untuk melestarikan budaya melewati kebaya dan di hari kartini itu.” ujarnya.
Hari itu, kebaya berbicara. Bukan dengan suara, tapi dengan kehadiran. Ia menjadi bahasa simbolik bahwa perempuan tidak harus terbelenggu dan berhak untuk bersuara. Mereka bisa tetap berdiri lantang di garis depan.
(yd)

