FISIPERS – Selasa, 21 April 2026 yang bertepatan dengan Hari Kartini Menjadi momentum bagi mahasiswa Universitas Mulawarman untuk merefleksikan kembali sejauh mana sosok pahlawan perempuan dikenal. Meski setiap tanggal 21 april diperingati sebagai Hari kartini, muncul pertanyaan, apakah pengenalan terhadap tokoh-tokoh feminis Indonesia itu masih terjebak pada simbolis tanpa benar-benar memahami esensi perjuangan mereka?
Minimnya literasi sejarah mengenai pahlawan perempuan selain Kartini menjadi sorotan utama. Nala, mahasiswi Hubungan Internasional, mengungkapkan bahwa kurikulum pendidikan dari SD sampai SMA jarang sekali membedah secara rinci kontribusi tokoh perempuan.
‘’Kalau pahlawan perempuan itu sangat sedikit, bahkan kalau disebutkan pun hanya nama tanpa dijelaskan secara rinci kontribusi mereka sebagai pahlawan itu apa,” ungkap Nala, (17/04).
Selain itu, Nala juga menambahkan bahwa meski teknologi memudahkan kita untuk menjangkau informasi sejarah, tantangannya tak jarang masih beredar berita simpang siur di dunia digital.

Alin, mahasiswi Ilmu Komunikasi 2025, juga menyebutkan bahwa sistem pendidikan membuat pelajar hanya memahami pahlawan sebagai ikon tanpa benar-benar mengetahui bagaimana jejak perjuangan mereka pada masa itu.
“Menurut saya belum sepenuhnya memenuhi itu karena di dalam sistem pendidikan Indonesia juga masih ada kurikulum yang menjelaskan tentang pejuang-pejuang sebelumnya dan hanya mengenalkan sedikit tetapi tidak secara dalam. Jadi kita sebagai pelajar banyak memahami mereka bahwa mereka hanya sebagai ikon tetapi tidak mengetahui bagaimana jejak perjuangan mereka pada masa itu,” tutur Alin, (21/04).
Alin juga menambahkan, “Dengan media sosial tentu mampu untuk memberikan kita wawasan secara luas dan secara cepat tentang tokoh-tokoh feminis di Indonesia, bagaimana jejaknya. Dan di satu sisi media sosial ini juga berpengaruh cukup negatif bagi kita mengenal tokoh-tokoh feminis, kenapa? Karena banyak sekali opini-opini yang tidak disampaikan secara fakta, secara aktualnya dan secara data yang ada di media sosial, biasanya hanya berupa opini saja.”
Di era sekarang, dimana tidak seperti dahulu yang memiliki keterbatasan akses literasi, media sosial kini muncul sebagai sarana dan jembatan generasi muda untuk mengenal tokoh feminis. Akan tetapi, Alin menjelaskan bahwa media sosial juga bisa menjadi ‘’pisau tajam bermata dua’’ karena banyaknya informasi yang tidak berdasarkan fakta atau data aktual.

Menurut Alin, melanjutkan semangat Kartini di masa kini bukan lagi sekedar kata-kata, melainkan butuh aksi nyata, keberanian berpikir kritis, dan analisis yang kuat. “berani berpikir kritis, berani mengkritik, berani menganalisis dan tentunya mampu untuk menyampaikan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.”
Alin menekankan bahwa perempuan kini harus bisa berani, sebab ‘’perempuan itu bukan hanya tentang hadir, tetapi mampu memberi arah.”
Sementara itu, Nala juga mengajak generasi muda untuk melanjutkan semangat juang Kartini dengan cara yang lebih mudah, yaitu saling menghargai tanpa perlu memberikan batasan atau label gender tertentu.
(dv, may, nj, nas)

