FISIPERS – Mahasiswa FISIP UNMUL mulai merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2026. Kenaikan harga pokok, transportasi, hingga kebutuhan akademik membuat mahasiswa harus menyesuaikan pola pengeluaran dan lebih cermat lagi dalam mengelola keuangan.
Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin melemah akibat berbagai faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, tingginya suku bunga AS, konflik geopolitik internasional, serta dinamika ekonomi domestik. Pada tahun 2026, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh di atas Rp 18.000 per dolar AS, yang menjadi salah satu titik terlemah dalam sejarah pergerakan rupiah.
Dilansir Kompas.com, analisis ekonom dari UGM dan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, pelemahan rupiah memicu imported inflation (inflasi impor) yang menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, energi, dan biaya hidup harian. Dampak ini paling dirasakan oleh kelompok dengan pendapatan tetap, seperti mahasiswa dan perantau, karena uang saku atau pendapatan mereka tidak naik secepat kenaikan harga barang dan jasa.
Mery Maharani, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik FISIP UNMUL, mengaku mulai menyadari adanya pelemahan rupiah pada saat harga bahan baku pokok mengalami kenaikan.
“Semenjak bahan baku pokok mulai naik, dan itu sangat merugikan bagi UMKM seperti saya, kalau bahan pokok sudah mulai naik berarti ada sesuatu di nilai rupiah yang lemah di pasar global,” ujar Mery pada Senin (22/6).
Menurutnya, kenaikan harga paling terasa pada bahan baku makanan, bahan bakar minyak, serta bahan baku bangunan.
“Pastinya bahan baku makanan, bensin, dan bagi real estate kerugiannya ada pada bahan baku bangunan,” ujar Mery.
Di sisi lain, Mery juga menilai bahwa meskipun biaya pendidikan seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT) tidak mengalami perubahan, mahasiswa tetap terdampak melalui meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari.
“Kalau dalam perkuliahan menurut saya tidak, karena UKT tidak terpengaruh. Namun dalam kehidupan sehari-hari seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan tugas kuliah, lemahnya nilai tukar rupiah sangat berpengaruh karena semua harganya naik,” ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan adanya kenaikan harga sejumlah kebutuhan rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Salah satunya adalah harga tabung gas berwarna merah muda yang naik dari Rp240.000 menjadi Rp270.000.
“Naiknya Rp30.000 ini cukup merugikan karena dengan uang sebesar itu sebenarnya bisa digunakan untuk membeli kebutuhan lain,” ujar Merry.
Menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu akibat pelemahan nilai tukar rupiah, Mery mengaku harus lebih cermat dalam mengelola keuangan sehari-hari. Ia mulai mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, memprioritaskan kebutuhan pokok, serta berusaha menyisihkan sebagian uang yang dimiliki sebagai bentuk antisipasi terhadap kenaikan harga yang masih mungkin bisa terjadi.
“Lebih bijak dalam mengelola keuangan, membeli apa yang dibutuhkan bukan apa yang kita inginkan, lebih sering menyimpan uang, jika uangnya cukup bisa mulai investasi ke emas sedikit demi sedikit,” ujar Mery.
Adapun mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2025, Abi, juga merasakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan sehari-hari. Ia mengaku mulai menyadari kondisi tersebut sejak awal tahun 2025 ketika harga berbagai kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan.
“Sebenarnya saya baru merasakan di tahun 2025 awal yang dimana kenaikan barang dari minyak hingga kebutuhan pokok lainnya, perlahan demi perlahan naik terus. Saya mengira ada terjadi sesuatu yang mengakibatkan harga melonjak setiap tahunnya, ternyata saya sadar ini berkaitan dengan melemahnya nilai rupiah Indonesia,” ujar Abi pada (25/6).
Menurutnya, mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang terdampak oleh kondisi tersebut karena sebagian besar belum memiliki penghasilan tetap.
Di lingkungan tempat tinggal dan kampus, Abi juga mengamati adanya kenaikan harga berbagai kebutuhan. Harga sembako dan makanan di warung mengalami peningkatan sehingga ia mulai mencari cara untuk menghemat pengeluaran, termasuk memilih rute perjalanan yang lebih dekat agar penggunaan bahan bakar lebih efisien.
“Harga sembako naik, makanan di warung warung ikut naik, dan untuk jalan menggunakan sepeda motor saya sering menghitung jalan tercepat untuk sampai ke tujuan biar menghemat minyak,” ujarnya.
Menurut Abi, pelemahan rupiah berdampak langsung pada kondisi keuangan mahasiswa karena banyak kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada barang impor.
“Banyak barang dan kebutuhan kita sehari-hari itu harganya bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga barang impor otomatis naik, dan itu merembet ke semua hal. Mulai dari bahan makanan, bahan bakar, sampai perangkat teknologi yang kita butuhkan untuk kuliah,” katanya.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Abi mulai menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih disiplin. Ia membuat catatan pengeluaran harian, memprioritaskan kebutuhan pokok, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, serta merintis usaha Kampoeng Vapor sebagai sumber pendapatan tambahan guna membantu memenuhi kebutuhan selama menempuh pendidikan.
“Saya mulai lebih sering membuat catatan pengeluaran harian. Saya prioritaskan kebutuhan primer dulu, kurangi jajan atau nongkrong yang tidak perlu. Saya mulai bangun usaha Kampoeng Vapor untuk bisa membantu kehidupan saya berkuliah,” tutup Abi.
Berdasarkan keterangan kedua narasumber, pelemahan nilai tukar rupiah dirasakan melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti bahan pokok, transportasi, dan sejumlah kebutuhan akademik. Kondisi tersebut membuat mahasiswa melakukan berbagai penyesuaian dalam mengelola keuangan, mulai dari memprioritaskan kebutuhan pokok, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, hingga mencari sumber pendapatan tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani perkuliahan.
(nad/eny/sss)
Sumber:

