FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • HOME
  • BERITA
  • OPINI
  • SEPUTAR FISIP
  • KATEGORI LAINNYA
    • SASTRA
    • EDUKASI
    • EVENT
    • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • PROFIL
    • TENTANG KAMI
    • KONTAK
    • GALERI
    • BOOKLET
    • SEJARAH
Reading: “Kaltim Jadi Anak Tiri” : Massa Soroti Lambatnya Respon Pemerintah
Share
Notification Show More
Latest News
Sidang Luar Biasa : DPM Tindak Lanjuti Dugaan Pelanggaran AD/ART MPM FISIP UNMUL
November 2, 2026
Fenomena Citizen Journalism di Tengah Arus PEMIRA FISIP UNMUL 2026
October 28, 2026
Wujudkan Kampus Inklusif, FISIP UNMUL Realisasikan Pembangunan Jalur Akses Disabilitas
October 25, 2026
Pemaknaan Musik Melalui Kacamata Mahasiswa FISIP UNMUL
October 25, 2026
Gelar Aksi di Kantor Gubenur : Tuntut Transparansi dan Evaluasi Gratispol
October 24, 2026
Aa
Aa
FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • HOME
  • BERITA
  • OPINI
  • SEPUTAR FISIP
  • KATEGORI LAINNYA
  • PROFIL
  • HOME
  • BERITA
  • OPINI
  • SEPUTAR FISIP
  • KATEGORI LAINNYA
    • SASTRA
    • EDUKASI
    • EVENT
    • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • PROFIL
    • TENTANG KAMI
    • KONTAK
    • GALERI
    • BOOKLET
    • SEJARAH
Have an existing account? Sign In
© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
FISIPERS - Good News, Good Ideas > Blog > Berita > “Kaltim Jadi Anak Tiri” : Massa Soroti Lambatnya Respon Pemerintah
Berita

“Kaltim Jadi Anak Tiri” : Massa Soroti Lambatnya Respon Pemerintah

FISIPERS UNMUL
By FISIPERS UNMUL Published September 5, 2026
Last updated: 2026/09/05 at 10:08 PM
Share
SHARE

FISIPERS – Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi “Kaltim Jadi Anak Tiri” yang digelar Aliansi Rakyat Kalimantan Timur (ARAK) di Simpang 3 Kinabalu, Jalan Gajah Mada, Samarinda, pada Kamis (3/9/2026). Massa menilai persoalan lingkungan, kebencanaan, dan pengelolaan sumber daya alam di Kalimantan Timur masih belum mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari pemerintah.

Property of FISIPERS

Humas Aliansi Rakyat Kalimantan Timur (ARAK), Muhammad Salman Al Farisy menyampaikan, “kami melihat bahwasanya karhutla yang terjadi di Pulau Kalimantan, khususnya di Kalimantan Timur ini menjadi kian mengerikan, tapi tidak ada perhatian khusus dari nasional. Seharusnya, kalau memang mereka memperhatikan, pemerintah pusat itu sudah menetapkan status bencana nasional.”

Salah satu tuntutan utama yang dibawakan dalam aksi ini adalah penetapan status bencana nasional atas terjadinya karhutla di Kalimantan. Salman menilai status bencana nasional diperlukan agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi dan terkontrol.

“Karhutla ini bukan pertama kali. Tiap tahun sebenarnya, paling besar di 2015 dan 2019. Kita punya pengalaman historis, pada akhirnya ya, pemerintah kurang responsif. Penetapan tersangka lamban, penegakan hukumnya lamban, menegakkan pengendalian karhutlanya juga lamban. Makanya sebenarnya kami melihat ada ironitas yang terjadi oleh pemerintah kita sekarang ini dalam menanggapi dan mengendalikan karhutla di Kalimantan,” paparnya.

Salman juga menyebut cuaca sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Namun, menurutnya faktor cuaca tidak dapat menjadi satu-satunya alasan karena kebakaran juga berkaitan dengan aktivitas manusia. Ia meminta pemerintah tidak hanya menyalahkan masyarakat, khususnya masyarakat adat, tetapi turut menyelidiki aktivitas perusahaan yang berada di wilayah konsesi.

Property of FISIPERS

Menurut Salman, setelah penetapan status bencana, pemerintah perlu melakukan pemulihan lingkungan serta mengevaluasi aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Ia juga menyoroti kewajiban reklamasi terhadap lahan bekas tambang sebagai bagian dari upaya mengurangi persoalan lingkungan yang berpotensi memperburuk kondisi wilayah terdampak.

Persoalan karhutla tersebut menjadi bagian dari 7+8 tuntutan yang dibawa dalam aksi. Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNMUL, Joefinley atau Jojo mengatakan, “yang melatarbelakangi gerakan hari ini adalah berkaca dengan poin tuntutan yang ada sekitar 15. Kami juga me-highlight terkait apa yang jadi dampak daripada kejadian-kejadian ke belakang ini terhadap Kalimantan Timur itu sendiri.”

Selain karhutla, ia juga menyebutkan persoalan pemadaman listrik, gangguan air, dan reklamasi tambang. Menurutnya persoalan-persoalan tersebut menunjukkan masih adanya masalah dalam pengelolaan sumberdaya dan pelayanan yang berdampak langsung terhadap masyarakat. 

Property of FISIPERS

Dari sejumlah persoalan yang dibawa dalam aksi, Joefinley menempatkan karhutla sebagai salah satu isu yang paling mendesak. Di sisi lain, aksi tersebut juga membawa sejumlah tuntutan nasional, salah satunya adalah RUU Perampasan Aset, dan mengenai penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia.

Mahasiswa Pembangunan Sosial FISIP UNMUL, Nadin, menilai persoalan yang terjadi saat ini semakin ironis karena Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu wilayah yang kaya akan sumber daya alamnya. Namun menurutnya, masyarakat Kalimantan Timur justru berhadapan langsung dengan kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.

Nadin juga menambahkan terkait lambatnya respon pemerintah terhadap bencana. “Sebenarnya kalau dari sudut pandang saya sendiri, saya ngerasa kayanya respon pemerintah agak kurang cepat dalam penanganan apa yang terjadi di Kalimantan, yang terjadi di Sumatra, yang terjadi di NTT dan kawan-kawan.”

Property of FISIPERS

Sementara itu, hingga aksi berlangsung, massa belum melakukan audiensi langsung dengan pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. Joefinley mengatakan penyampaian aspirasi sejauh ini dilakukan melalui propaganda dan aksi di jalan untuk membangun perhatian publik serta momentum untuk kembali membangun semangat juang.

Aksi “Kaltim Jadi Anak Tiri” pada akhirnya tidak hanya menyoroti persoalan karhutla, tetapi juga mempertemukan berbagai keresahan yang selama ini dirasakan masyarakat. Tuntutan yang dibawa massa selanjutnya akan menjadi bagian dari agenda pengawalan mereka melalui aksi lanjutan apabila belum mendapat respon dari pemerintah.

 

(isy/mel)

You Might Also Like

Sidang Luar Biasa : DPM Tindak Lanjuti Dugaan Pelanggaran AD/ART MPM FISIP UNMUL

Fenomena Citizen Journalism di Tengah Arus PEMIRA FISIP UNMUL 2026

Wujudkan Kampus Inklusif, FISIP UNMUL Realisasikan Pembangunan Jalur Akses Disabilitas

Pemaknaan Musik Melalui Kacamata Mahasiswa FISIP UNMUL

Gelar Aksi di Kantor Gubenur : Tuntut Transparansi dan Evaluasi Gratispol

FISIPERS UNMUL September 5, 2026
Share this Article
Facebook TwitterEmail Print
Previous Article Mengusung Semangat “See. Think. Tell” LPM Sketsa Unmul Cetak Bibit Jurnalis Muda Lewat PJTD 2026
Next Article WiFi FISIP Terganggu, Hambat Aktivitas Akademik Mahasiswa

Stay Connected

Instagram Follow
Youtube Subscribe

Latest News

Sidang Luar Biasa : DPM Tindak Lanjuti Dugaan Pelanggaran AD/ART MPM FISIP UNMUL
Berita
Fenomena Citizen Journalism di Tengah Arus PEMIRA FISIP UNMUL 2026
Berita Seputar FISIP
Wujudkan Kampus Inklusif, FISIP UNMUL Realisasikan Pembangunan Jalur Akses Disabilitas
Berita Seputar FISIP
Pemaknaan Musik Melalui Kacamata Mahasiswa FISIP UNMUL
Berita Feature
//

Resmi didirikan pada tahun 2022, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS merupakan unit kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang berfokus pada bidang jurnalistik dan multimedia.

Menu Lainya

  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • GALERI
  • BOOKLET

Kategori

  • BERITA
  • SEPUTAR FISIP
  • EDUKASI
  • EVENT
  • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • OPINI
November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
« Oct    

© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

Selamat Datang Di FISIPERS

Good News, Good Ideas!

https://fisipers.fisip.unmul.ac.id

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?