PERHATIAN! Tulisan berikut merupakan tulisan yang dikirim ke alamat email Redaksi FISIPERS sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa FISIP UNMUL untuk membagikan dan mempublikasikan karya tulis milik mereka. Segala bentuk karya yang diunggah telah melalui kajian serta pertimbangan oleh tim Redaksi FISIPERS agar tetap sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sekelompok ayam akan mengajari anak ayam bagaimana hidup selayaknya ayam, pun para babi akan mengajari anak babi bagaimana hidup sebagai babi. Hanya di kampus ku temui sebagian akademika mengajari gonggongan ala preman pada “anak” baru.
Ketika informasi hasil seleksi mahasiswa di umumkan, sumringah diriku sebab pernyataan lulus yang tertuang di dalamnya. “Ahh, dunia akademik itu,” pikirku “Wadah para intelektual yang gemar mengolah data dan logika.” Lanjutku. Tinggi harapku padanya, sebab setiap pasang mata di bumi mengagung-agungkannya. “Jelas tiada perilaku buruk padanya.”
Kurayakan, pada kewajibannya dengan kertas administratif ku penuhi, pada aksi yang “diwajibkan” ku jalani. “Akan ada awal yang baik!” pikirku, agar tubuh sanggup menanggung bebannya.
Lantas tibalah masa yang pada pokoknya adalah “pengkaderan anak baru”, masa di mana ekspektasi itu luruh bak daun dihempas angin. Jadwal yang menghimpit ibadah subuh, tersaing berkokok para mahasiswa dari ayam jantan. Meski tiada masalah bagiku, sebab bumi Allah adalah suci.
Tibaku di dekatnya, masing-masingnya digeluti rayuan sibuk, dikekang rasa takut, ingin menampikkan kebolehannya. Semua penuh terka, apa yang ada di sana, apakah baiknya, atau tidak?
Raung tudingan itu meluncur mulus bersama irama lembut, tanpa filter melesat pada indra setiap “anak” baru. Aksi yang ada takku temui kewajiban pada perkuliahannya, bahkan pada ilmu hukum yang telah kujalani setahun lebih awal. Pada yang buruknya, kutarik simpulan, tiada budaya akademik di sini. Pada yang baiknya kutarik simpulan, adab dalam bicara.
“Akademika mana yang menggonggong, sebab tinggi penghormatan padanya. Akademika mana yang menuding, sebab luas dialektika padanya. Akademika mana yang sia-sia pada aksinya, sebab selalu bercahaya pada tindakannya. Sungguh tiada budaya akademik disini, kecewa aku ada padanya.”
Mudah ku berkelahi untuk mendapat gonggongan, mudah ku mencela untuk mendapat tudingan, mudah ku bermalasan untuk mendapat sia. Tidak di tempat ini, di tempat yang diagungkan manusia. Mesti ada budaya akademik padanya, pudarlah budaya buruk padanya. Yang mesti di jejal dengan semangat ilmiah, sudahi dijejal dengan sia.
Semestinya mahasiswa adalah cahaya, yang manfaatnya pun ikut dinikmati oleh setiap ciptaan-Nya. Tiada waktu baginya tuk gonggongan dan sia.
Nama : Irham Saputra

