“Anindya, tolong Ibu sebentar, Nak.” Panggil ibuku.
Aku bangkit dari posisi rebahan santaiku sembari menghela napas pelan. Ku langkahkan kakiku dengan gontai menuju sumber suara yaitu dapur.
Masih dengan seragam putih abu yang ku kenakan, aku segera duduk di kursi meja makan. Aku menumpu wajahku dengan telapak tangan kanan. Tatapan lelah sekaligus malas kini ku pancarkan.
“Bantu apa, Bu?” Tanyaku.
Ibu yang awalnya fokus menguleni adonan kue pun terhenti, tangannya menggapai sebuah toples berukuran sedang transparan berisi kue nastar. Ibu menaruh toples tersebut dihadapanku.
Seketika tatapan ku berbinar, senyumku terukir jelas menghiasi wajah penuh jerawat ini. Aku paling suka kue nastar, dan ibu hanya membuat nastar satu tahun sekali. Tepatnya saat perayaan hari raya idul fitri.
“Tolong antar toples ini ke rumah sebelah, ya.”
Senyum cerahku hilang, tergantikan dengan senyuman masam. Ibu yang memang masih sibuk berkutat dengan alat dan bahan masak pun tak memperdulikan aku. Dengan perasaan malas sekaligus kesal, ku ambil toples tersebut.
“Jangan dimakan dijalan loh!” Peringat Ibu.
Aku memutar bola mata secara malas, ibu masih ingat ternyata dengan kejahilanku sewaktu kecil. Jadi, waktu itu aku masih berumur 10 tahun. Ibu menyuruhku untuk mengantar setoples kue nastar ke rumah sebelah yaitu rumahnya Pak Sudirman. Aku yang memang agak mempunyai pikiran licik pun segera memakan beberapa kue nastar tersebut ditengah jalan.
Sialnya, aku terciduk Kak Sagara. Kak Sagara adalah anak sulung dari Pak Sudirman. Kak Sagara awalnya tutup mulut, tapi pada akhirnya ia membuka “kartu” ku dihadapan ibuku saat silaturahmi. Akhirnya, ajang silaturahmi pada tahun itu pun menjadi ajang aku di omeli oleh ibu.
Tiba didepan pintu rumah Pak Sudirman, aku segera mengetuk pelan pintu utama rumah bercat coklat dengan gaya klasik yang khas tersebut. Bibirku mengucapkan kata sapaan berupa salam dan permisi.
10 menit menunggu, namun tak ada yang membalas sapaan apalagi membukakan pintu untukku. Aku menunggu sembari melihat-lihat ke lingkungan rumah. Luas dan banyak di tumbuhi oleh pepohon dan tanaman hias yang terawat.
Penantianku tak sia-sia. Sebuah mobil sedan berwarna hitam nampak memasuki pekarangan rumah Pak Sudirman. Mobil itu berhenti sebelum masuk ke dalam garasi, lalu keluarlah Bu Dewi yaitu istri Pak Sudirman dari mobil lebih dulu. Beliau segera menghampiriku sembari tersenyum. Aku menyalami tangan beliau lalu setelahnya tersenyum.
“Wah…apaan tuh?” Tanya Bu Dewi, penasaran.
“Kue nastar, Bu.” Balasku.
“Repot-repot banget, deh. Tunggu sebentar disini atau mau ikut masuk?” Tawarnya.
Aku menolak tawaran Bu Dewi dengan lembut. Aku mau cepat pulang agar tak berpapasan dengan Kak Sagara. Bu Dewi yang tak curiga sama sekali pun hanya mengiyakan, tak ada pemaksaan seperti biasanya. Pak Sudirman pun menawarkan hal yang sama, tapi lagi-lagi ku tolak.
Bu Dewi keluar dari rumah dengan dua toples berisikan kue putri salju dan kue rambutan cokelat. Aku menerimanya dengan senang hati.
Ku kira aku akan bisa langsung pulang. Ternyata, Bu Dewi terus mengajakku berbicara. Sebenarnya, aku ingin menyudahi lebih dulu. Tapi, bingung caranya bagaimana. Takut disangka tak sopan karena memotong pembicaraan orang tua.
“Mah, ini siapa?”
Aku melotot, menatap horor kearah sumber suara. Dibelakangku, ada Kak Sagara berdiri dengan wajah datarnya. Aku meneguk ludahku kasar, tubuh Kak Sagara terlihat lebih kekar dan tinggi daripada 5 tahun yang lalu.
“Masyaallah anak mama udah pulang. Tadi flightnya lancar, kan?” Balas Bu Dewi.
Kak Sagara menyalami tangan Bu Dewi, sedangkan aku hanya bisa diam seperti batu. Bu Dewi memeluk pinggang Kak Sagara dan menatapku sembari tersenyum.
“Ingat ngga ini siapa?” Tanya Bu Dewi, padaku.
Aku mengangguk kaku. Mana mungkin aku lupa dengan orang yang meledekku habis-habisan gara-gara terciduk makan kue nastar untukku berikan padanya? Sudah pasti aku ingat! Ditambah lagi wajahnya yang tampan mirip Haechan NCT. Siapa yang akan lupa?
“Kamu…Anin, kan?” Tanya Kak Sagara, ragu.
Aku mengangguk sembari tersenyum kaku. Kak Sagara yang awalnya menatapku dingin pun langsung tersenyum sumringah. Perasaanku tak enak melihat senyumnya!
“Kamu yang makan kue nastar buat dikasih kesini diam-diam, kan?! Astaga! Kak Sagara lupa sama kamu. Masih pendek ternyata.” Ucapnya.
Inilah alasanku malas sekali kalau sudah bertemu Kak Sagara. Sudah kejadian memalukan diungkit terus-terusan mulutnya pun tidak ada filternya sama sekali. Aku memilih menunduk, malu sekaligus kesal kini ku rasakan. Bu Dewi yang merasa ucapan sang anak keterlaluan pun mencubit pinggang Kak Sagara hingga ia mengaduh kesakitan.
“Mulutya ih! Ngga usah di dengerin ya, Anin! Pulang gih. Nanti ibu nyariin lagi.” Sungut Bu Dewi.
Aku tetap menunduk sembari membungkuk beberapa kali, mulutku mengucapkan kata terima kasih begitupun dengan hatiku. Aku segera berlari menjauh. Namun sebelum itu, aku mendengar Kak Sagara berteriak.
“Hati-hati pipinya meledak, merah banget soalnya!” Ledeknya.
Aku menutupi wajahku dengan toples yang ku pegang, pasti terlihat sangat jelek!
Pada malam harinya, karena kebetulan malam ini malam terakhir salat tarawih, aku salat di Masjid seorang diri. Ibu tidak ikut salat bersamaku karena beliau sedang datang bulan.
Seperti yang sudah diajarkan ibu selain tentang berbuat baik kepada sesama, ibu juga mengajarkan tentang agama kepadaku. Meskipun aku hidup tanpa figur bapak sejak masih kecil karena beliau menelantarkan kami, aku bersyukur karena ada ibu di dalam hidupku.
Salat tarawih selesai pada pukul 9 malam. Aku segera berjalan menuju pulang dengan berjalan kaki. Aku harus membantu ibu mengemas pesanan kue lebaran yang menumpuk. Ya, ibu membuka usaha yaitu berupa toko kue untuk mencari nafkah.
Di tengah jalan, hujan deras tiba-tiba mengguyur tubuhku. Aku berlari agar tubuhku tidak terlalu basah saat pulang ke rumah. Namun, saat sedikit lagi aku akan berbelok ke gang rumahku, aku menemukan seekor anak kucing tergeletak tak berdaya tepat ditengah jalan.
Aku sangat menyukai kucing tapi tak bisa memeliharanya karena beberapa alasan. Jadilah, aku hanya bisa melihat-lihat kucing jalanan maupun kucing taman.
Aku mendekati anak kucing itu dan ingin segera menyelamatkannya. Aku benar-benar kehilangan fokusku dan lupa menengok ke kanan maupun kearah kiri jalanan, ternyata sebuah mobil melaju kencang kearahku.
Aku yang belum sempat menghindar pun merasakan tubuhku melayang ke udara karena mobil tersebut menabrakku dengan kencang. Tubuhku terkapar di tengah jalan, aku benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhku kehilangan kekuatan untuk bangkit. Sebelum pandanganku menggelap, aku masih sempat merasakan bahwa aku memeluk kucing yang sedang berusaha ku selamatkan tersebut.
Indra penciumanku menangkap bau obat-obatan yang menyeruak, membuatku merasa terganggu hingga mengerutkan dahi. Aku mengedarkan pandanganku, menemukan ibu yang tidur dengan posisi duduk dan menggenggam tanganku.
Ibu refleks membuka matanya dan duduk tegap saat aku menggerakkan tanganku yang ia genggam erat. Reaksi ibu nampak terkejut sekaligus haru, ia memeluk tubuhku yang terbaring lemas dan segera menghubungi dokter yang menanganiku.
Seusai melewati pemeriksaan ulang oleh dokter, aku jadi mengetahui bahwa kaki kanan ku mengalami patah tulang parah. Pemulihannya pun paling lama kurang lebih 1 tahun hingga sembuh total.
Aku menggenggam tangan ibu yang mengelus kepalaku dengan lembut. Ibu tersenyum kala aku meminta sebuah pelukan. Pelukan ibu terasa hangat dan nyaman.
“Ibu, maafin Anin, ya. Anin sangat ceroboh ya, Bu?” Tanyaku.
“Ngga papa, Anin. Yang penting Anin sudah selamat sekarang!” Balas ibu.
Aku terisak pelan, lalu menangis kencang. Ibu mengusap kepalaku secara perlahan, lalu bahuku. Bibirnya menggumamkan kata-kata penenang.
Tak terasa sudah setengah tahun semenjak aku mengalami kecelakaan mobil. Ibu dan Kak Sagara selalu menemaniku untuk pergi ke rumah sakit untuk medichal check-up kakiku yang patah. Bahkan Kak Sagara beberapa kali membantu pembayaran pengobatanku.
Selama setengah tahun ini pula, Kak Sagara banyak sekali membantuku dan ibu. Dan aku sadar, Kak Sagara bukan sekadar orang yang sering menjahiliku saja, ia juga sangat baik kepadaku. Keluarganya pun juga sering kali berkunjung ke rumah. Aku banyak berutang budi pada keluarga kecil Pak Sudirman.
“Sore ini, mau jalan-jalan ke taman komplek sama kakak?” Tawar Kak Sagara.
Aku mengangguk penuh semangat sembari tersenyum lebar. Kebetulan juga ibu mendengar percakapan kami dan memperbolehkanku pergi dengan Kak Sagara.
Pada sore harinya, aku benar-benar pergi bersama Kak Sagara ke taman komplek yang tak jauh dari rumahku. Untunglah karena kaki ku yang patah perlahan membaik, aku bisa berjalan sendiri walau masih butuh dua tongkat untuk menyangga tubuhku ketika berjalan.
Kami duduk disebuah kursi taman berukuran panjang dan lumayan lebar berbahan kayu. Di sana, kami bisa melihat rerumputan hijau yang segar dan terkena cahaya mentari sore yang terlihat sangat cantik. Sungguh memanjakan mata.
Angin sepoi-sepoi menerpa kami, membuatku menghela napas pelan. Akhirnya setelah terkurung berbulan-bulan dirumah, aku dapat melihat lingkungan sekitar.
“Sesuai dengan janji kakak. Kalau kamu sembuh, kakak akan kasih kamu sesuatu. Tunggu sebentar, ya.”
Aku memerhatikan Kak Sagara yang berlari dan menangkap seekor anak kucing berwarna putih bercampur hitam kini berada digendongannya. Kak Sagara lalu berjalan kearahku dan duduk tepat disebelahku.
“Coba tebak, anak kucing ini kenapa kakak ambil?” Tanya Kak Sagara.
“Karena…kakak mau aja?” Tanyaku, bingung.
Kak Sagara menggeleng, lalu menyuruhku untuk mengambil alih anak kucing dari tangannya itu ke tanganku. Aku menerimanya dengan bingung tapi pada akhirnya aku mengelus bulu-bulunya tanpa henti.
“Ini anak kucing yang kamu selamatkan, Anin.” Ucap Kak Sagara.
Mataku berkaca-kaca, lalu tak lama kemudian air mataku mengalir dengan derasnya. Usahaku tak sia-sia ternyata untuk melidunginya waktu itu. Ternyata, anak kucing itu kini ada dipangkuanku dan terlihat sangat sehat.
Aku merasakan tangan Kak Sagara menepuk-nepuk pelan kepalaku. Aku menghapus sisa air mataku dan menatap Kak Sagara dengan senyuman lebar.
“Terima kasih ya, Kak. Kakak sudah mau bantu Anin. Anin merasa sangat berhutang budi sama kakak. Suatu saat nanti, Anin pasti akan membalas kebaikan Kak Sagara.” Ucapku.
Kak Sagara tersenyum lebar dan menggeleng, membuatku menatapnya bingung. Lalu aku harus membalasnya dengan cara seperti apa?
“Anin harus sembuh total, semakin semangat belajarnya, jangan pernah lupa sama ibu Anin. Kak Sagara ngga pengen apapun dari Anin. Yang penting, ketika Anin sudah besar nanti, Anin jadi orang yang sukses dan baik.”
Aku mengangguk penuh semangat dan tersenyum lebar. Kak Sagara ikut tersenyum lebar dan mengacak pucuk kepalaku pelan. Kami lalu tertawa bersama di taman komplek yang menjadi saksi kenangan masa kecil yang masih membekas.
Ucapan dari Kak Sagara kembali membangkitkan semangatku untuk segera sembuh sepenuhnya. Untuk segera melanjutkan hidup menjadi orang yang lebih baik.
Terima kasih Kak Sagara, sudah menjadi rumah keduaku setelah ibu. Terima kasih karena telah hadir di hidupku dan selalu memberiku nasihat meskipun terkadang membuatku kesal karena sikap jahilmu. Rasanya Kak Sagara bukan lagi hanya sekedar tetangga sebelah rumah yang menyebalkan saja. Tapi sudah seperti abang bagiku. Kak Sagara menambah daftar orang-orang yang menurutku sangat baik dan pantas untuk mendapatkan hal yang baik pula.
Terima kasih, Tuhan. Berkat takdirmu aku sadar, bahwa ketika kita menebar kebaikan disekitar dengan hati yang lapang, maka hal tersebut akan kembali berbalik ke kita. Sekarang aku yakin, aku harus selalu menjadi salah satunya. Orang yang selalu berbuat baik itu.
Nama : Maulida Syifa
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Angkatan : 2025

