FISIPERS – Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar aksi unjuk rasa lanjutan secara besar-besaran di depan Kantor Gubernur Kaltim, (21/04). Setibanya di titik aksi kedua tersebut, massa aksi dibuat geram oleh kawat besi berukuran besar yang mengelilingi kawasan Kantor Gubernur Kaltim lengkap dengan penjagaan ketat dari aparat.
Setelah surat tuntutan ditandatangani oleh fraksi DPRD Pemerintah Provinsi (Kaltim), massa aksi bergerak menuju titik aksi kedua yakni Kantor Gubernur Kaltim. Namun, setibanya di titik aksi, massa aksi disambut oleh kawat besi berukuran besar dan penjagaan ketat dari aparat.
Meski dinilai tidak ricuh, percikan ketegangan di titik aksi tetap muncul ketika massa aksi melihat adanya kawat besi berduri melintang mengelilingi area gedung. Tindakan ini pun dikecam dan dinilai tidak etis oleh massa aksi.

“Kalau menurut saya itu gak etis sama sekali sih. Soalnya kan kita hanya ingin, kan yang dia bilang bernegosiasi, tapi kenyataannya dia tidak bernegosiasi sama sekali. Malah memberi kawat, memberi jeda dan tidak keluar sama sekali,” ucap Nazwa dan Nayla, massa aksi dari FISIP UNMUL yang turut hadir pada hari itu.
Mereka juga menganggap tindakan tersebut merupakan suatu upaya untuk menakut-nakuti serta membuat massa aksi yang hadir menyuarakan keresahan masyarakat adalah penjahat.
“Masa kita yang rakyat ditakutin sama mereka. Padahal kan senjatanya ada di mereka, seakan-akan kami penjahatnya,” tambah Nazwa.
Walau terus mendesak untuk berdialog, tak satupun perwakilan Pemprov Kaltim bersedia untuk keluar dan menemui massa aksi. Rasa kecewa yang didapat membuat sebagian massa aksi berupaya untuk memanjat pagar, hingga ada pula yang berhasil merusak kawat besi yang terpasang dan membuka gerbang, meski perilaku tersebut dicegat oleh jajaran aparat keamanan yang menjaga ketat lokasi tersebut.

Meski terdapat beberapa upaya provokasi baik dari provokator maupun aparat, massa aksi pada hari itu tidak terpengaruh ataupun terprovokasi. Mereka berhasil menyuarakan aspirasi serta keresahan mereka dengan damai, tanpa menimbulkan kericuhan maupun merusak fasilitas.
Akhir dari aksi pada sore tersebut ditandai dengan bubarnya massa aksi dengan damai. Massa aksi bergerak mundur meski tak ada perwakilan Pemprov yang hadir untuk menemui mereka dan memberikan pernyataan terkait aksi tersebut.
(faa/ha/dv/wfa/nad/grd)

