FISIPERS – Hari Ulang Tahun Serikat Perusahaan Pers (SPS) yang ke-80 sukses dilaksanakan di Ballroom Dispora Kaltim pada (5/11/2026), ajak mahasiswa memahami pentingnya perbedaan antara media profesional dengan media yang tidak terikat dengan standar Jurnalis di era saat ini.
Agenda HUT SPS ini ternyata bukanlah kegiatan yang baru dilaksanakan pada tahun ini, tetapi sudah menjadi agenda tahunan. Pada tahun lalu, kegiatan ini dilaksanakan di Banda Aceh dan dari sanalah diputuskan agenda ini akan dilaksanakan di Kalimantan Tengah.
Namun karena saat ini Kalimantan Tengah masih menghadapi persoalan kabut asap, maka akhirnya diputuskan bahwa Kalimantan Timur yang akan menjadi tempat dilaksanakannya agenda ini.
Meski harus mengubah tempat pelaksanaan, perayaan HUT ke-80 SPS di Kaltim dengan tahun-tahun sebelumnya adalah adanya agenda penghargaan atau awarding untuk media. Dalam agenda ini pula, media nasional maupun media daring turut dilibatkan. Hal ini diungkapkan langsung oleh Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) yaitu Ajid Kurniawan.
Secara gamblang, ia menjelaskan bahwa sebenarnya agenda kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari. Dimulai pada hari pertama yaitu Rabu (4/11) dijadwalkan kegiatan gala dinner bersama Gubernur Kalimantan Timur. Namun dengan mempertimbangkan situasi di Samarinda saat ini, pihak SPS pun memutuskan untuk menyesuaikan kondisi sehingga tidak memaksa pelaksanaan gala dinner dilakukan di Kantor Gubernur.
Dilanjut dengan hari kedua yaitu Kamis (5/11), dilaksanakan Dialog Media dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Ajid menjelaskan bahwa Rakernas ini nantinya menjadi dasar untuk pelaksanaan Kongres SPS tahun 2027 di Lampung. Melalui Rakernas tersebut, akan dihasilkan sejumlah rekomendasi, baik yang akan berkaitan dengan persoalan industri media maupun isu-isu nasional dan daerah yang bersinggungan dengan media.
Dan di hari ketiga yaitu Jumat (6/11), para peserta dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan tujuan ingin memperkenalkan IKN secara langsung kepada peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Adapun di hari kedua ini, agenda dimulai dari jam 8 pagi hingga 12 siang. Diawali dengan registrasi peserta, penyambutan VIP, serta penayangan profil SPS pada pukul 08.30–09.00 WITA, sebelum akhirnya acara resmi dibuka dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Rangkaian pembukaan ini kemudian diisi dengan laporan dan sambutan dari Ketua Umum SPS Januar P. Ruswita, Kapolda Kaltim Irjen. Pol. Endar Priantoro, serta Sekda Kaltim Sri Wahyuni. Memasuki sesi inti dialog, acara menghadirkan pemaparan materi strategis mulai dari transformasi industri energi bersama PT Pertamina (Persero), pembangunan infrastruktur berkelanjutan dari Otorita IKN, hingga peran pers dalam mengawal transisi energi dari Dewan Pers, yang kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab serta perumusan rekomendasi hasil dialog.

Lebih lanjut, Ajid menjelaskan bahwa dari pihak SPS sudah merancang tema besar untuk agenda ini. Ia mengungkapkan bahwa Kalimantan Timur merupakan salah satu lumbung energi, baik energi yang bersifat ekstraktif maupun energi terbarukan.
Kemudian, dari pihak SPS menghadirkan pihak Kapolda karena investasi yang dilakukan di suatu daerah dapat berjalan dengan baik apabila kondisi keamanan dan stabilitasnya terjaga.
Ajid juga mengatakan bahwa dari pihak SPS menghadirkan narasumber dari Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai salah satu yang ingin diperkenalkan dari Kalimantan Timur. Pihak SPS pun menginginkan masyarakat mengetahui bahwa IKN nantinya akan menjadi Ibu Kota baru Indonesia.
Melalui pemaparan tersebut, Ajid mengatakan bahwa peserta dapat melihat perspektif mengenai pembangunan IKN sebagai smart and green city, termasuk implementasi energi terbarukan, pembangunan infrastruktur, serta konsep kota cerdas.
Selain itu, pihak SPS ingin media dari luar Kaltim tidak hanya mengetahui IKN melalui publikasi atau pemberitaan saja, tetapi juga dapat melihat secara langsung. Dengan demikian, mereka bisa menilai apakah konsep dari forest and green city benar-benar diterapkan.
“Kami ingin media dari luar Kalimantan Timur tidak hanya mengetahui IKN melalui publikasi atau pemberitaan, tetapi juga dapat melihat langsung kondisi faktualnya. Dengan demikian, mereka bisa menilai apakah konsep forest and green city benar-benar diimplementasikan atau hanya menjadi slogan di atas kertas,” tutur Ajid.
Terakhir, pihak SPS juga menghadirkan Dewan Pers sebagai narasumber karena berperan penting dalam mengawasi dan melihat perkembangan industri media, baik saat ini maupun kedepannya. Ia pun mengatakan bahwa masyarakat perlu tahu bahwa hammpir seluruh anggota SPS telah terverifikasi oleh Dewan Pers yaqng menurutnya menjadi pembeda antara SPS dengan organisasi lainnya. Ia juga mengatakan bahwa SPS merupakan salah satu konstituen Dewan Pers.
Di akhir wawancara, Ajid berharap seluruh pihak, baik mahasiswa maupun undangan lainnya, dapat memperoleh perspektif baru dalam memahami media, khususnya mengenai pentingnya profesionalisme, etika jurnalistik, dan verifikasi Dewan Pers. Menurutnya, hal tersebut semakin penting di tengah maraknya tsunami informasi dan fenomena post-truth yang membuat masyarakat sulit membedakan kebenaran dan kebohongan.
“Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan perspektif baru kepada peserta mengenai media, khususnya perbedaan antara media profesional yang telah terverifikasi Dewan Pers dengan homeless media. Di tengah maraknya tsunami informasi dan fenomena post-truth, masyarakat perlu memahami pentingnya jurnalistik yang berlandaskan kepercayaan, etika, serta profesionalisme wartawan,” tutupnya.
(ha)

