FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Home
  • Berita
  • Opini
  • Seputar FISIP
  • Kategori Lainya
    • Edukasi
    • Event
    • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Pages
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Galeri
Reading: Si Bungsu dan Tekadnya
Share
Notification Show More
Latest News
ASPIKOM Korwil Kaltim–Kalbar Resmi Dilantik, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Ilmu Komunikasi di Era Digital
June 8, 2026
Pentas Rakyat HIMAPSOS 2026 Hadirkan Hiburan dan Ruang Aspirasi untuk Masyarakat
June 2, 2026
IGTS Berikan Sosialisasi Pemanfaatan AI bagi Siswa SMK 1 Samarinda
May 22, 2026
Nobar “Pesta Babi” Digelar di FISIP UNMUL, Mahasiswa Soroti Isu Ekologi dan Kemanusiaan di Papua
May 17, 2026
IGTS 2026: Mahasiswa Ilkom Kenalkan penggunaan AI kepada Siswa SMKN 9 Samarinda
May 16, 2026
Aa
Aa
FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Berita
  • Seputar FISIP
  • Edukasi
  • Event
  • Opini
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Categories
    • Seputar FISIP
    • Opini
    • Berita
    • Hiburan dan Gaya Hidup
    • Event
    • Edukasi
  • Bookmarks
  • Lainya
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Galeri
Have an existing account? Sign In
  • Advertise
© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
FISIPERS - Good News, Good Ideas > Blog > Sastra > Si Bungsu dan Tekadnya
Sastra

Si Bungsu dan Tekadnya

FISIPERS UNMUL
By FISIPERS UNMUL Published May 13, 2026
Last updated: 2026/05/13 at 9:05 PM
Share
SHARE

“Tuan putri, ikut abang ke konser orkestra, yuk?” Ajak abangku.

Aku hendak menolak ajakannya, namun abangku itu lebih dulu menarik tanganku menuju kamarku. Ia mendorong tubuhku masuk kedalam kamar, menguncinya dari luar.

“Abang tunggu 20 menit. Aria, sudah harus keluar, ya?” Ucapnya, penuh semangat.

Aku menghela napas, berjalan gontai menuju lemari pakaian. Aku mengambil sebuah gaun yang sekiranya bisa digunakan pada acara yang bersifat formal itu.

Setelah bersiap sesuai dengan menit yang ditentukan oleh abangku, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar. Sebuah gaun berwarna putih dengan motif bunga mawar berwarna merah muda melekat ditubuhku. Sepatu warna putih hak tinggi dengan tinggi 3 meter terpasang dikedua kakiku.

Abangku itu tersenyum lebar, lalu berjalan lebih dulu. Aku mengikuti langkahnya yang lebar, merasa kewalahan mengingat kakinya yang panjang.

Kami tiba di sebuah gedung dengan arsitektur khas yunani kuno. Disana, kami disambut oleh dua penjaga. Salah satunya meminta dua tiket, syarat kami agar bisa masuk.

Selepas melakukan registrasi untuk bisa masuk kedalam gedung, aku menggandeng lengan abangku. Jangan sampai hal buruk terjadi. Seperti terpisah misalnya. Akan sangat merepotkan bila itu terjadi.

Kami duduk di kursi yang telah disediakan. Aku menegakkan tubuhku, menaruh kedua tanganku diatas paha. Aku mengedarkan pandangan, sedikit takjub dengan gedung yang terlihat sangat mewah. Gaya klasik dan sedikit jadul menambah daya tarik gedung ini.

Saat aku tengah mengedarkan pandangan, nyaris seluruh lampu ruangan tiba-tiba mati, lalu tak lama kemudian tirai panggung berwarna merah terbuka.

Ada seorang maestro yang berdiri tegak menghadap kami. Ia membungkuk untuk waktu yang lama, hingga kembali menegakkan tubuhnya. Ia tersenyum, lalu menghadap kearah para musisi yang telah siap dengan alat musik masing-masing.

Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, tangan kanannya memegang sebuah tongkat kecil berbahan kayu. Ia menggerakkan kedua tangannya, mengayunkannya dengan tempo yang sesuai.

Alunan musik biola yang mengalun indah nan anggun menyapa indra pendengaranku. Aku perlahan mulai merasa santai setelah tegang beberapa menit. Seluruh penonton yang hadir diam, enggan bersuara sekecil apapun. Mereka terhanyut dengan permainan biola, begitu pun denganku.

Aku takjub. Walaupun sang maestro yang memimpin konser orkestra pada kali ini rambutnya sudah terlihat sedikit putih karena beruban, beliau masih nampak bersemangat dan selalu merasa bahwa jiwa beliau masih muda. Sama seperti dahulu.

Alunan musik biola berhenti perlahan, tergantikan dengan suara alunan piano yang tak kalah indah nan anggun. Sang maestro menghentikan ayunan tangannya.

Aku memerhatikan dengan saksama, seorang lelaki dengan pakaian jas rapi tengah menekan setiap tuts piano dengan lincah. Benar-benar ahli dan mengesankan. Ia seolah bersatu dengan setiap alunan yang ia buat, seolah alunan piano tersebut adalah separuh jiwanya.

Aku benar-benar terkesima. Tiga tahun terakhir, aku belum pernah melihat seorang pianist yang sangat menjiwai sepertinya. Hal ini benar-benar membangkitkan sesuatu yang tertahan didalam diriku. Sesuatu yang tidak asing sama sekali.

Tangannya yang lincah diatas tuts piano mengakhiri dengan baik pertunjukkan ini. Ia berdiri dari posisi duduknya, kemudian melangkahkan kakinya dan berhenti tepat diujung panggung, menghadap kearah para penonton. Ia tersenyum lebar lalu membungkuk hormat.

Aku tahu betul ia siapa. Ia pianist muda yang kini sedang naik daun akhir-akhir ini. Namanya Jastara Hadikusumo. Ia adalah murid paling sukses dari maestro yang memimpin pada konser orkestra pada hari ini.

Nama serta foto-fotonya beredar dimana-mana. Aku sering melihatnya disebuah situs online koran, hingga majalah. Kehebatan tangannya dalam memainkan tuts piano tersihir, berhasil membuat orang-orang pecinta musik klasik rela mengantre tiket konsernya.

Konser orkestra itu usai. Aku dan abangku memutuskan untuk mampir kesebuah restoran yang letaknya tak jauh dari gedung.

Kami makan dengan tenang. Hingga aku pada akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. Menyampaikan sesuatu yang terpendam.

“Bang Jo, aku mau lanjut bermain piano lagi.” Ucapku.

Bang Johan atau yang kerap ku panggil Bang Jo itu menghentikan aktivitasnya, menatapku lekat. aku tak bisa menebak tatapan mata Bang Jo sekarang. Entah itu marah, terkejut, atau bingung pun aku benar-benar tak tahu.

“Kamu serius? Sudah 3 tahun loh, kamu tidak bermain piano. Kamu yakin?” Tanya Bang Jo.

Aku mengangguk sembari tersenyum tipis, membuat Bang Jo menghela napas pelan. Ia mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa makanan yang menempel disekitar wajahnya. Namun, ia tetap menatapku.

“Tapi, aku maunya Kak Jastara yang akan menjadi guru pembimbingku.” Ucapku.

“Jastara? Jastara Putra Hadikusumo?” Tanya Bang Jo, memastikan.

Aku lagi-lagi mengangguk pelan. Membuat Bang Jo mengerinyitkan dahi tak percaya. Ia menatapku bingung.

“Baiklah, kalau itu keinginan kamu. Bang Jo akan mengusahakan agar Jastara mau jadi guru pembimbing kamu.” Ucap Bang Jo.

Tiga hari berlalu, aku mendapat berita baik. Bang Jo mengatakan bahwa Kak Jastara menyetujui permintaannya agar ia menjadi guru pembimbingku. Aku senang, tetapi tidak seantusias sewaktu kecil.

Aku menatap sebuah foto figura kecil yang terpajang di lemari bertingkat tanpa pintu berisi piala-piala penghargaanku sejak kecil. Aku menggapai foto figura itu, mengelus ujung figura sembari tersenyum lebar.

Di figura foto itu, almarhum mama dan papa tengah menemaniku bermain piano. Aku tertawa kecil, membayangkan diriku waktu itu. Aku masih berumur 5 tahun dan belum mengerti apa-apa tentang alat musik. Tapi, aku sudah menunjukkan ketertarikan yang sangat besar terhadap piano.

Aku ingat betul saat aku berumur 10 tahun, papa segera mendaftarkanku ke sebuah les musik. Disana, aku langsung memilih piano sebagai alat musik yang ingin ku pelajari lebih dalam. Aku makin jatuh cinta dengan alunan piano yang indah. Setiap ada kesempatan, aku akan selalu latihan.

Terkadang, mama akan mengomel karena aku yang bermain piano sembari bernyanyi pada saat malam hari. Aku tetap melanjutkannya, membuat mama pada akhirnya pasrah.

Aku menghela napas, tawa kecilku sedari tadi reda. Aku memeluk figura tersebut, lalu menghempaskan tubuhku diatas kasur. Aku menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih polos, mataku mulai berkaca-kaca.

Aku berusaha menahan tangisku, kala ingatan menyakitkan mengenai kedua orang tuaku kembali terputar di otak. Bagai kaset rusak yang hanya memutar bagian yang itu-itu saja. Rasanya menyesakkan dada. Napasku kian memburu.

Aku menutupi kedua mataku dengan telapak tangan, menangis pelan. Aku benar-benar belum bisa lupa ternyata.

Hari telah ditentukan, aku bersiap menunggu kedatangan seseorang. Aku memakai pakaian yang benar-benar sopan namun tetap santai, rambut hitam legam milikku sengaja ku kuncir kuda agar terlihat rapi.

Aku bersenandung kecil, hingga terdengar bel rumahku ditekan oleh seseorang. Aku bergegas berjalan kearah pintu utama rumah, membuka pintu tersebut secara perlahan.

Seorang lelaki berdiri didepan pintu. Ia nampak berpakain formal dengan jas rapi dan rambut yang ditata sama seperti pakaiannya. Ia tersenyum lebar, membuatku mengangguk pelan.

Aku mempersilakan lelaki itu masuk, lalu menutup pintu. Aku juga mempersilakannya duduk terlebih dahulu, disofa ruang tamu dan ia menyetujuinya.

Ia menyodorkan tangannya kearahku, senyumannya belum pudar sedari tadi. Aku menatap tangan lelaki itu, lalu membalasnya sembari tersenyum tipis.

“Perkenalkan, saya Jastara Putra Hadikusumo. Panggil saja saya Jastara. Saya hanya berbeda 5 tahun dari kamu. Jadi, jikalau ada yang kamu ingin tanyakan selama kelas ini, jangan malu apalagi sungkan.” Ucapnya.

“Terima kasih. Saya Aria Pavithra Arsaloka. Senang bertemu dengan anda. Boleh saya panggil anda dengan panggilan kak?” Balasku.

“Boleh. Kalau begitu, kelas pianonya ingin dilaksanakan sekarang?” Tawarnya.

Aku mengangguk, menerima tawaran. Kami lalu berjalan beriringan menuju lantai dua, dimana ada ruang khusus musik. Disana, hampir seluruh alat musik modern ada. Ruangan itu benar-benar menjadi ruangan kesukaanku dahulu.

Baru menginjakkan kaki dilantai dua, kepalaku sudah mulai pusing. Aku memaksakan diri, berusaha tetap tenang meskipun rasa gelisah menghampiriku. Aku mulai merasa tak nyaman di ruangan ini.

Aku mendudukkan diri dihadapan piano yang masih terlihat bersih tanpa debu, meskipun tidak tersentuh selama 3 tahun lamanya. Aku menghela napas pelan, membuka penutup tuts piano dengan kedua tanganku. Napasku memburu, tubuhku berkeringat, namun tangan dan kakiku basah oleh keringat dingin.

Kak Jastara setia berdiri disampingku. Saat ku tanya alasanya, ia hanya tersenyum sembari menjawab bahwa ia tahu bakatku sangat mumpuni untuk menjadi seorang pianist.

Aku menarik napas dalam, menghembuskannya secara perlahan. Aku menggerakkan jari-jari tanganku yang semakin basah. Jantungku berdebar kencang, pusing dikepalaku terasa makin parah. Kejadian menyeramkan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku terlintas kembali.

Saat itu, papa dan mama sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Aku dan Bang Jo pun sepakat agar kami melakukan panggilan video untuk menemani perjalanan pulang papa dan mama. Kedua tanganku dengan lihai menekan tuts piano, memainkan sebuah lagu. Aku ingin menunjukkan sebuah lagu yang baru saja ku pelajari.

Namun sayangnya, kejadian mengerikan terjadi. Mobil yang membawa mama dan papa ditabrak dari depan. Panggilan video itu masih tersambung, membuatku yang masih bermain piano dengan riang pun dapat mendengar suara tabrakan itu. Kencang dan menakutkan. Aku benar-benar bingung dengan situasi saat itu.

Selepas kecelakaan itu, dari hasil penyelidikan polisi, sopir truk yang menabrak mobil mama papa ternyata sedang mabuk berat. Sopir pribadi keluargaku dinyatakan meninggal ditempat, sedangkan mama dan papa sama-sama sempat melewati masa kritis selama seminggu sebelum akhirnya meninggal dunia.

Duniaku benar-benar runtuh saat itu. Aku benar-benar tidak bisa memikirkan aku seperti apa kedepannya. Aku kehilangan semangat hidup hingga berat badanku pernah mencapai 35 kilogram dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter. Benar-benar kurus.

Sekarang, aku ingin kembali bangkit dan melanjutkan bakatku bermain piano. Namun, setiap kali aku berusaha bermain piano, reaksi tubuhku selalu seperti itu. Benar-benar sulit tertebak.

Pandanganku kian memburam, aku berusaha agar tetap sadar meskipun rasanya gejala seperti ini makin parah. Tubuhku menolak. Aku merasakan pandanganku menggelap, aku yakin aku jatuh pingsan.

“Kalau kamu memang tidak bisa bermain piano lagi, berhenti saja sekarang, Aria. Abang tidak ingin kamu makin terluka mengingat kejadian 3 tahun lalu.” Bujuk Bang Jo.

Selepas kejadian aku pingsan saat kelas piano bersama Kak Jastara, Bang Jo membatasiku untuk mengikuti kelas tersebut. Aku menggeleng dengan kuat, tersenyum lebar. Aku bersikukuh dan bertemu dengan Kak Jastara tanpa sepengetahun Bang Jo.

Bang Jo ingin kembali membuka suara, namun aku lebih dulu berbicara. Aku ingin meredakan kekhawatiran Bang Jo mengenai diriku.

“Bang Jo, abang pernah bilang kalau Aria harus menghadapi tantangan apapun dengan tangguh, ‘kan? Sekarang, Aria tengah menghadapi tantangan itu, Bang Jo. Tantangan itu ada didalam tubuh dan pikiran Aria sendiri. Abang cukup mendukung Aria saja.” Ucapku.

Bang Jo menghela napas, kemudian tersenyum tipis. Abangku itu menatapku sembari mencubit pelan ujung hidungku, membuatku mengaduh walau tidak merasakan sakit.

“Baiklah, tuan putri. Bang Jo akan selalu mendukung kamu. Tapi, ingat satu hal. Kalau kamu mau berhenti, abang tetap akan mendukungmu. Jangan memaksa kalau sudah tidak bisa lagi. Ya?” Ucap Bang Jo.

Aku mengangguk sembari tersenyum lebar. Perasaanku sedikit lebih lega.

Hari yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu, hari dimana aku akan tampil lagi didepan umum sebagai seorang pianist.

Walau bukan tampil seperti di konser orkestra dan hanya tampil di perjamuan keluarga saja, aku senang karena bisa kembali menunjukkan bakatku yang sebenarnya setelah 3 tahun berhenti memainkan piano.

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan selepas aku menampilkan lagu terakhir. Aku berdiri dan membungkuk kearah keluarga besarku yang berkumpul. Aku tersenyum lebar dan bangga. Aku bangga dengan diriku sendiri, karena berhasil menghadapi tantangan terbesarku selama 3 tahun ini dengan baik.

Dengan dukungan Bang Jo dan Kak Jastara, aku dapat kembali menggeluti bidangku dengan baik.

Kak Jastara menghampiriku lalu menyodorkan tangannya kearahku, mengajak berjabat tangan. Tanpa ragu, aku membalas jabatan tangan tersebut. Kami berdua saling menatap dan menyunggingkan senyuman lebar.

“Selamat bergabung kembali ke dunia musik, Tuan Putri Aria.” Ucapnya.

“Berhentilah memanggilku tuan putri, Kak Jastara.” Pintaku.

Aku menatap jengah walau masih tersenyum. Sedangkan Kak Jastara tertawa lebar melihat wajahku yang memerah menahan malu. Kami melepas jabatan tangan dan melanjutkan perbincangan.

“Kamu hebat, Aria. Kamu berhasil menaklukan tantangan didalam dirimu dengan tangguh. Saya belum pernah bertemu dengan murid seperti kamu. Saya yakin, dimasa depan kamu bisa mempunyai konser orkestra milikmu sendiri.” Pujinya.

Aku hanya membalas pujian dari Kak Jastara sebagai doa. Semoga pujian itu memang mencerminkan diriku.

Aku sadar, bahwa ketika kita dapat menaklukan tantangan yang sedang kita hadapi dengan penuh kesabaran dan menjadi pribadi yang lebih tangguh, maka tantangan itu akan dapat dilalui. Meskipun memerlukan perjuangan yang melelahkan dan menguras tenaga. Suatu saat, perjuangan itu akan membuahkan hasil, bahkan sekecil apapun.

 

 

 

Nama : Maulida Syifa

Program Studi : Ilmu Komunikasi

Angkatan : 2025

You Might Also Like

Rumah ke Rumah

FISIPERS UNMUL May 13, 2026
Share this Article
Facebook TwitterEmail Print
Previous Article Rumah ke Rumah
Next Article Biar Gak Asal Pakai AI, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmul Angkatan 2023 Ajak Siswa MAN 2 Samarinda Pintar “Saring Sebelum Sharing”

Stay Connected

Instagram Follow
Youtube Subscribe

Latest News

ASPIKOM Korwil Kaltim–Kalbar Resmi Dilantik, Perkuat Kolaborasi Pendidikan Ilmu Komunikasi di Era Digital
Event
Pentas Rakyat HIMAPSOS 2026 Hadirkan Hiburan dan Ruang Aspirasi untuk Masyarakat
Event Seputar FISIP
IGTS Berikan Sosialisasi Pemanfaatan AI bagi Siswa SMK 1 Samarinda
Seputar FISIP
Nobar “Pesta Babi” Digelar di FISIP UNMUL, Mahasiswa Soroti Isu Ekologi dan Kemanusiaan di Papua
Berita
//

Resmi didirikan pada tahun 2022, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS merupakan unit kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang berfokus pada bidang jurnalistik dan multimedia.

Menu Lainya

  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • GALERI

Kategori

  • BERITA
  • SEPUTAR FISIP
  • EDUKASI
  • EVENT
  • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • OPINI
June 2026
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
« May    

© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

Selamat Datang Di FISIPERS

Good News, Good Ideas!

https://fisipers.fisip.unmul.ac.id

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?