“Luka akibat child grooming tidak selalu terlihat secara fisik, namun sangat nyata secara psikologis”. Bayangkan seorang gadis remaja yang haus perhatian, tiba-tiba didekati sosok dewasa penuh kasih, pesan manis, hadiah kecil, dan janji pemahaman mendalam. Perlahan, ikatan itu mencekik, mengubah rasa aman menjadi ketergantungan, seperti benang kusut dalam buku Broken Strings yang patahkan jiwa Aurelie Moeremans.
Fenomena ini dikenal sebagai child grooming, sebuah proses manipulasi yang kerap menyamar dalam hubungan romantis, terutama pacaran pada usia anak maupun remaja. Di berbagai kasus, grooming tidak datang dengan kekerasan yang dapat dilihat dengan mata, melainkan melalui kata-kata lembut dan perhatian yang terkesan tulus, namun dibalik itu semua justru menjadi boomerang yang dapat menghancurkan diri sendiri.
Ketika Pacaran Menjadi Ruang yang Tak Setara
Child grooming adalah proses manipulasi psikologis oleh orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk membangun kepercayaan dan ikatan emosional, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual. Kondisi ini sering terjadi terhadap “pacaran” atau hubungan romantis, di mana pelaku (groomer) memberikan perhatian berlebih, hadiah, atau janji manis untuk membuat korban merasa spesial. Dalam konteks ini, apa yang tampak seperti pacaran sehat justru menjadi alat kontrol, yang bisa berkembang menjadi kekerasan dalam pacaran seperti tekanan seksual atau ancaman.
Masalah utamanya terletak pada ketimpangan. Anak dan remaja belum memiliki kematangan emosional dan psikologis untuk berada dalam hubungan yang setara dengan orang dewasa. Ketika pacaran melibatkan perbedaan usia, kuasa, atau pengalaman yang signifikan, relasi tersebut menjadi rentan untuk disalahgunakan.
Perhatian berlebihan, sikap posesif, pembatasan pergaulan, hingga manipulasi emosi sering kali dianggap sebagai bukti cinta, mereka membuat skenario seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk pasangannya. Padahal, itulah bentuk dari pola klasik grooming: membuat korban bergantung, merasa istimewa, lalu perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Tentang Broken Strings: Cinta yang Dikendalikan
Buku “Broken Strings” karya Aurélie Moeremans mengungkap kisah traumatis seorang remaja Belgia yang menjadi korban child grooming di Indonesia. Memoar ini, yang viral di media sosial, menceritakan perjalanan Aurélie sejak pindah ke Indonesia untuk karier hiburan hingga terjebak dalam hubungan manipulatif dengan pria yang jauh lebih tua bernama ‘Bobby’, yang melibatkan isolasi, gaslighting, serta kekerasan emosional dan fisik.
Tokoh utama dalam Broken Strings tidak langsung peka terhadap manipulasi yang dialaminya. Mirip korban grooming pada umumnya, ia awalnya diyakinkan bahwa pengalaman tersebut hanyalah bentuk cinta sejati. Ketakutan akan kehilangan, ketergantungan emosional, serta kebingungan membedakan kasih sayang dari pengendalian yang menciptakan jaringan rumit sulit dipisahkan.
Di sinilah Broken Strings menjadi relevan sebagai cerminan sosial. Kisahnya menggambarkan bagaimana grooming bekerja secara halus, tanpa paksaan, tanpa teriakan, namun meninggalkan luka yang dalam bahkan trauma.
Luka yang Tak Selalu Terlihat
Dampak child grooming tidak berhenti ketika hubungan yang kita jalani berakhir. Banyak korban membawa luka psikologis jangka panjang: rasa bersalah, hilangnya kepercayaan diri, trauma relasional, hingga kesulitan membangun hubungan sehat di masa depan, kebanyakan dari mereka juga bahkan memutuskan untuk sendiri dan mengisolasi dirinya.
Korban kerap menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa “ikut memilih” dalam hubungan tersebut, tanpa menyadari bahwa manipulasi telah bekerja jauh sebelum mereka mampu membuat keputusan secara bebas. Budaya victim blaming memperparah keadaan, yang membuat korban enggan bersuara dan semakin terisolasi.
Mengapa Grooming Sulit Disadari?
Grooming sulit dikenali karena masyarakat masih meromantisasi pacaran, bahkan pada usia anak. Kontrol dianggap bentuk perhatian, kecemburuan disebut tanda cinta atau sayang, dan pengorbanan diri dipuji sebagai kesetiaan.
Minimnya literasi tentang relasi sehat membuat banyak orang tua, pendidik, bahkan lingkungan sekitar gagal melihat tanda bahaya. Ketika anak menyebutnya pacaran, publik kerap berhenti bertanya lebih jauh. Lingkungan disekitar menganggap itu adalah hal yang wajar karena mereka melihat dari cover nya saja, tanpa tahu sebenarnya hubungan bagaimana yang mereka jalani di balik layar.
Pentingnya Literasi Hubungan yang Sehat
Pencegahan child grooming membutuhkan lebih dari sekadar larangan. Anak dan remaja perlu dibekali pemahaman tentang batasan, persetujuan, dan hubungan yang setara. Mereka perlu tahu bahwa cinta tidak menuntut pengorbanan diri, tidak membungkam suara, dan tidak mengisolasi. Saling menjaga satu sama lain serta menjalani hubungan yang positif harus selalu ditanamkan oleh masing-masing pasangan.
Karya tulis dalam buku Broken Strings berperan penting sebagai bahan refleksi. Ia membuka ruang dialog, membantu pembaca, terutama generasi muda, mengenali pola relasi yang tidak sehat dan menyadari bahwa luka mereka valid. Melalui buku ini pula menjadi bekal untuk para korban lainnya yang mungkin merasa pernah di posisi tokoh agar menjadi bahan refleksi, bahwasanya mereka tidak sendiri dan setidaknya meringankan rasa trauma yang mereka alami sampai sekarang ini akibat child grooming.
Akhir Kata
Cinta seharusnya membebaskan, bukan mengikat dengan rasa takut. Pacaran seharusnya menjadi ruang tumbuh, bukan jerat yang mematahkan. Anak bukan objek relasi romantis orang dewasa, melainkan individu yang harus dilindungi.
Nama : Carmelita Dalia Pauno
Prodi : Hubungan Internasional
Angkatan : 2025

