FISIPERS – Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental, Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) menyelenggarakan malam puncak di Taman Budaya Samarinda Sebagai penutup dari kegiatan Psychocare 2026. Kegiatan ini mengusung edukasi kesehatan mental sebagai fokus utama.
Psychocare 2026 diawali dengan kampanye kesehatan mental pada 23 dan 26 September 2026, dilanjutkan dengan sesi konseling pada 27 September 2026 dan seminar pada 3 Oktober 2026. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup melalui malam puncak yang digelar pada 18 Oktober 2026 di Taman Budaya Samarinda.

Selain memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dan kaitannya dengan kesehatan fisik, kegiatan ini juga diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober.
Ketua Pelaksana Psychocare 2026, Nurdianah Islami, menjelaskan bahwa malam puncak kegiatan semula dijadwalkan berlangsung pada 10 Oktober 2026. Namun, pelaksanaannya harus diundur karena adanya kendala teknis.
“Kesehatan mental manusia sering kali dianggap remeh karena tidak terlihat seperti kesehatan fisik yang harus selalu dijaga dengan baik. Namun, kesehatan mental kini tak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik karena walau tak terlihat, kesehatan mental dapat memengaruhi kondisi fisik manusia,” ujarnya saat diwawancarai pada (18/10)

Dalam penyelenggaraannya, Psychocare 2026 melibatkan berbagai pihak yang turut mendukung kelancaran acara. Media partner berperan membantu menyebarluaskan informasi melalui publikasi flyer, sementara sponsor dan donatur memberikan dukungan berupa dana maupun barang. Panitia bertanggung jawab atas persiapan hingga pelaksanaan kegiatan, dengan dukungan dari pihak eksternal yang menjalin kerja sama selama acara berlangsung.
Malam puncak Psychocare 2026 juga dimeriahkan oleh sejumlah penampilan bertema kesehatan mental. Salah satunya adalah Sandiwara HIMAPSI yang dihadirkan melalui kolaborasi internal HIMAPSI. Selain itu, WHITEFAMS turut diundang sebagai pengisi acara untuk memberikan hiburan kepada pengunjung, khususnya penggemar K-Pop.
Di balik pelaksanaan kegiatan tersebut, panitia menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari proses persiapan malam puncak hingga menjalin kerja sama dengan pihak eksternal. Nurdianah menyebutkan bahwa koordinasi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi miskomunikasi selama proses persiapan maupun pelaksanaan acara.
Diakhir wawancara, Nurdianah berharap Psychocare 2026 dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan mental serta mendorong masyarakat agar tidak meremehkan permasalahan kesehatan mental hanya karena dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.
“Harapan saya, semoga kegiatan ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental. Untuk tahun depan, semoga acaranya lebih kreatif, semakin banyak pengunjung, dan bisa menjangkau masyarakat lebih luas lagi,” tutupnya.
Sementara itu, Abrar dan Gilang, salah satu mahasiswa Psikologi mengaku ikut terkesan dengan perkembangan acara Psychocare dari tahun ke tahun.
“Dari tahun ke tahun makin improve sih. saya suka. Menurut saya acara Psychocare ini memang khusus untuk merangkul kesehatan mental mahasiswa. Yang mana itu memang penting,” aku Abrar dan Gilang.

Kegiatan Psychocare 2026 tak hanya sukses menjadi tempat hiburan, tetapi juga merangkul kepedulian bersama terhadap isu kesehatan mental di ruang publik. Psychocare diharapkan dapat terus hadir di tahun-tahun mendatang dengan konsep yang semakin kreatif dan berdampak lebih luas.
(dv/sya)

