Lebih dari satu dekade berjualan di lingkungan FISIP, Pak Lek bukan sekadar penjual pentol, melainkan bagian dari cerita dan keseharian mahasiswa yang silih berganti.
FISIPERS — Di salah satu sudut kampus perjuangan, ada tempat sederhana yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi mahasiswanya. Saat posisi matahari nyaris berada di atas kepala, sebuah gerobak motor yang membawa pentol mulai menjajakan dagangannya hingga sore hari. Di balik gerobak itu, ada sosok yang lebih akrab disapa Pak Lek oleh mahasiswa FISIP. Telah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun, Pak Lek tidak hanya menjadi bagian dari rutinitas kampus, tetapi juga menyaksikan mahasiswa datang dan pergi, berganti angkatan, serta menjalani kehidupan perkuliahan dengan cerita masing-masing. Di tengah kesibukan kuliah, tempat jualannya menjadi persinggahan mahasiswa untuk membeli jajanan, melepas penat, atau sekadar berbincang sebelum kembali beraktivitas.
Bagi sebagian mahasiswa, keberadaan Pak Lek bukan sekadar tentang membeli pentol ketika lapar. Ada kenyamanan yang membuat mereka memilih untuk kembali, bahkan ketika tidak berniat membeli apa pun. Jessica, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2025, misalnya, mengenal Pak Lek sejak pertama kali datang ke FISIP setelah mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Saat itu, ia datang bersama sepupunya dan bertanya tentang keberadaan kantin di fakultas. Pertanyaan sederhana tersebut justru membawanya pada perkenalan pertama dengan Pak Lek Pentol.

Sejak saat itu, Pak Lek menjadi salah satu tempat yang hampir selalu disinggahinya setiap kali datang ke kampus. Bahkan, menurut Jessica, ia tetap mampir meskipun tidak selalu membeli jajanan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik tempat ini tidak hanya terletak pada makanan yang dijual, tetapi juga suasana yang tercipta di sekitarnya.
“Di Pak Lek itu outdoor, terus di parkiran. Jadi habis parkir motor, singgah, duduk, cerita-cerita, ngobrol,” ungkap Jessica ketika menceritakan alasannya memilih tempat tersebut. Baginya, suasana santai itu menjadi kesempatan untuk bertemu banyak orang dan mengenal teman-teman baru. Dari sebuah tempat berjualan sederhana, interaksi antar mahasiswa pun dapat terjalin secara alami, tanpa harus direncanakan sebelumnya.
Kedekatan semacam itu tidak terbentuk dalam sehari. Selama bertahun-tahun berjualan di lingkungan FISIP, Pak Lek menjalani kesehariannya dengan berangkat dari rumah menuju kampus dan kembali ke rumah setelah selesai berjualan. Ia biasanya mulai membuka dagangan sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi hingga pukul lima sore. Waktu kedatangan mahasiswa yang berbeda-beda membuat suasana di sekitar gerobaknya turut berubah sepanjang hari. Ada kalanya mahasiswa datang setelah selesai kelas, duduk bersama teman-temannya, lalu mengisi waktu sebelum melanjutkan aktivitas.
Ketika ditanya mengapa memilih FISIP dibandingkan fakultas lain, Pak Lek menceritakan bahwa ia sempat berkeliling ke beberapa fakultas sebelum akhirnya merasa nyaman berjualan di sana. Pilihan itu tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui pengalamannya mencari tempat yang cocok. Kenyamanan tersebut kemudian menjadi salah satu alasan yang membuatnya bertahan hingga bertahun-tahun.

Namun, kenyamanan itu tidak hanya dirasakan oleh Pak Lek sebagai pedagang. Bagi mahasiswa, keberadaannya juga menghadirkan ruang pertemuan informal di tengah lingkungan akademik. Percakapan ringan, candaan, hingga cerita pribadi menjadi bagian dari pengalaman yang melekat pada tempat tersebut. Jessica bahkan menggambarkan hubungannya dengan Pak Lek layaknya seorang teman dekat, tempat ia bisa berbagi cerita dan curhat.
Meski begitu, hubungan yang terjalin bukan berarti tanpa hal-hal yang perlu diperhatikan. Bagi Pak Lek, suasana ramai yang diisi mahasiswa bercanda dan tertawa merupakan salah satu hal yang menyenangkan selama berjualan. Akan tetapi, ia juga menyoroti kebiasaan sebagian mahasiswa menggunakan kata-kata kasar atau makian di lingkungan kampus. Baginya, kebiasaan tersebut tidak sejalan dengan identitas kampus sebagai tempat pendidikan.

Pandangannya itu turut tercermin melalui tulisan berisi imbauan untuk menjaga perkataan yang pernah dipajang di sekitar tempat jualannya. Tulisan tersebut menjadi pengingat bahwa interaksi sehari-hari, termasuk ketika mahasiswa sedang bersantai, tetap perlu memperhatikan etika. Lingkungan pendidikan bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan di ruang kelas, melainkan juga tempat membangun sikap dan perilaku dalam kehidupan bersama.
Hal lain yang menjadi ciri khas Pak Lek adalah sistem pembayaran yang masih mengandalkan uang tunai. Di tengah semakin luasnya penggunaan transaksi digital, pilihan tersebut mungkin menimbulkan pertanyaan bagi mahasiswa yang terbiasa menggunakan QRIS. Jessica mengaku cukup sering mengalami situasi ketika tidak membawa uang tunai. Ia bahkan pernah menyarankan agar Pak Lek menyediakan pembayaran melalui QRIS. Namun, ketika tidak memiliki uang tunai, ia biasanya meminta bantuan teman untuk menukarkan uang atau mencari cara lain agar tetap bisa membayar.
Dari sisi Pak Lek, keputusan mempertahankan pembayaran tunai berkaitan dengan kebutuhan operasional sehari-hari. Setelah selesai berjualan, ia perlu kembali membeli bahan dagangan. Sementara itu, sebagian tempat belanja yang menjadi tujuannya masih mengandalkan uang tunai. Menurutnya, penggunaan pembayaran digital dapat menambah proses ketika saldo perlu dicairkan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk berbelanja kembali.

Pertimbangan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan dalam menjalankan usaha kecil tidak selalu sesederhana mengikuti perkembangan teknologi. Ada alur kebutuhan dan kebiasaan transaksi yang harus dipertimbangkan agar kegiatan berjualan tetap berjalan. Meski telah menerima banyak saran dari mahasiswa, Pak Lek masih merasa sistem tunai lebih sesuai dengan kebutuhannya saat ini.
Di balik rutinitas berjualan dan berbagai kebiasaan yang menjadi ciri khasnya, Pak Lek telah menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa selama berada di FISIP. Kehadirannya mempertemukan orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak saling mengenal, menyediakan tempat untuk beristirahat sejenak, sekaligus menghadirkan cerita-cerita kecil yang melekat dalam kehidupan kampus. Bagi Jessica, salah satu hal yang akan dirindukan apabila Pak Lek tidak lagi berjualan adalah pentol keju dan keripik yang menjadi menu favoritnya.
Kisah Pak Lek menunjukkan bahwa sebuah tempat sederhana dapat memiliki arti yang lebih luas daripada fungsi utamanya. Gerobak pentol yang setiap hari hadir di sudut FISIP bukan hanya menjadi tempat mahasiswa membeli makanan, melainkan juga ruang bagi pertemuan, percakapan, dan kebersamaan. Di tengah perubahan angkatan dan kesibukan perkuliahan, rutinitas yang terus berulang itu perlahan membentuk kedekatan antara pedagang dan mahasiswa. Sebuah kedekatan yang tumbuh bukan melalui sesuatu yang besar, melainkan dari hal-hal sederhana yang terus hadir dalam keseharian.
(wfa/mel/dv)

