FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Home
  • Berita
  • Opini
  • Seputar FISIP
  • Kategori Lainya
    • Edukasi
    • Event
    • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Pages
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Galeri
Reading: Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
Share
Notification Show More
Latest News
Aksi Pencerdasan oleh Mahasiswa FISIP UNMUL : Tolak Wacana Pilkada oleh DPRD
January 20, 2026
Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
January 16, 2026
MPM FISIP UNMUL Menggugat PEMIRA KM : Dugaan Adanya Indikasi Pelanggaran
December 18, 2025
FISIP PEDULI : Mahasiswa FISIP Lakukan Galang Dana Untuk Bencana Banjir & Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar
December 10, 2025
Nuansa Nasional di Politik Kampus
December 5, 2025
Aa
Aa
FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Berita
  • Seputar FISIP
  • Edukasi
  • Event
  • Opini
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Categories
    • Seputar FISIP
    • Opini
    • Berita
    • Hiburan dan Gaya Hidup
    • Event
    • Edukasi
  • Bookmarks
  • Lainya
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Galeri
Have an existing account? Sign In
  • Advertise
© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
FISIPERS - Good News, Good Ideas > Blog > Opini > Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
Opini

Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings

FISIPERS UNMUL
By FISIPERS UNMUL Published January 16, 2026
Last updated: 2026/01/16 at 2:01 PM
Share
SHARE

“Luka akibat child grooming tidak selalu terlihat secara fisik, namun sangat nyata secara psikologis”. Bayangkan seorang gadis remaja yang haus perhatian, tiba-tiba didekati sosok dewasa penuh kasih, pesan manis, hadiah kecil, dan janji pemahaman mendalam. Perlahan, ikatan itu mencekik, mengubah rasa aman menjadi ketergantungan, seperti benang kusut dalam buku Broken Strings yang patahkan jiwa Aurelie Moeremans.

Fenomena ini dikenal sebagai child grooming, sebuah proses manipulasi yang kerap menyamar dalam hubungan romantis, terutama pacaran pada usia anak maupun remaja. Di berbagai kasus, grooming tidak datang dengan kekerasan yang dapat dilihat dengan mata, melainkan melalui kata-kata lembut dan perhatian yang terkesan tulus, namun dibalik itu semua justru menjadi boomerang yang dapat menghancurkan diri sendiri.

Ketika Pacaran Menjadi Ruang yang Tak Setara

Child grooming adalah proses manipulasi psikologis oleh orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk membangun kepercayaan dan ikatan emosional, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual. Kondisi ini sering terjadi terhadap “pacaran” atau hubungan romantis, di mana pelaku (groomer) memberikan perhatian berlebih, hadiah, atau janji manis untuk membuat korban merasa spesial. Dalam konteks ini, apa yang tampak seperti pacaran sehat justru menjadi alat kontrol, yang bisa berkembang menjadi kekerasan dalam pacaran seperti tekanan seksual atau ancaman.

Masalah utamanya terletak pada ketimpangan. Anak dan remaja belum memiliki kematangan emosional dan psikologis untuk berada dalam hubungan yang setara dengan orang dewasa. Ketika pacaran melibatkan perbedaan usia, kuasa, atau pengalaman yang signifikan, relasi tersebut menjadi rentan untuk disalahgunakan.

Perhatian berlebihan, sikap posesif, pembatasan pergaulan, hingga manipulasi emosi sering kali dianggap sebagai bukti cinta, mereka membuat skenario seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk pasangannya. Padahal, itulah bentuk dari pola klasik grooming: membuat korban bergantung, merasa istimewa, lalu perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tentang Broken Strings: Cinta yang Dikendalikan

Buku “Broken Strings” karya Aurélie Moeremans mengungkap kisah traumatis seorang remaja Belgia yang menjadi korban child grooming di Indonesia. Memoar ini, yang viral di media sosial, menceritakan perjalanan Aurélie sejak pindah ke Indonesia untuk karier hiburan hingga terjebak dalam hubungan manipulatif dengan pria yang jauh lebih tua bernama ‘Bobby’, yang melibatkan isolasi, gaslighting, serta kekerasan emosional dan fisik.

Tokoh utama dalam Broken Strings tidak langsung peka terhadap manipulasi yang dialaminya. Mirip korban grooming pada umumnya, ia awalnya diyakinkan bahwa pengalaman tersebut hanyalah bentuk cinta sejati. Ketakutan akan kehilangan, ketergantungan emosional, serta kebingungan membedakan kasih sayang dari pengendalian yang menciptakan jaringan rumit sulit dipisahkan.

Di sinilah Broken Strings menjadi relevan sebagai cerminan sosial. Kisahnya menggambarkan bagaimana grooming bekerja secara halus, tanpa paksaan, tanpa teriakan, namun meninggalkan luka yang dalam bahkan trauma.

Luka yang Tak Selalu Terlihat

Dampak child grooming tidak berhenti ketika hubungan yang kita jalani berakhir. Banyak korban membawa luka psikologis jangka panjang: rasa bersalah, hilangnya kepercayaan diri, trauma relasional, hingga kesulitan membangun hubungan sehat di masa depan, kebanyakan dari mereka juga bahkan memutuskan untuk sendiri dan mengisolasi dirinya.

Korban kerap menyalahkan dirinya sendiri. Mereka merasa “ikut memilih” dalam hubungan tersebut, tanpa menyadari bahwa manipulasi telah bekerja jauh sebelum mereka mampu membuat keputusan secara bebas. Budaya victim blaming memperparah keadaan, yang membuat korban enggan bersuara dan semakin terisolasi.

Mengapa Grooming Sulit Disadari?

Grooming sulit dikenali karena masyarakat masih meromantisasi pacaran, bahkan pada usia anak. Kontrol dianggap bentuk perhatian, kecemburuan disebut tanda cinta atau sayang, dan pengorbanan diri dipuji sebagai kesetiaan.

Minimnya literasi tentang relasi sehat membuat banyak orang tua, pendidik, bahkan lingkungan sekitar gagal melihat tanda bahaya. Ketika anak menyebutnya pacaran, publik kerap berhenti bertanya lebih jauh. Lingkungan disekitar menganggap itu adalah hal yang wajar karena mereka melihat dari cover nya saja, tanpa tahu sebenarnya hubungan bagaimana yang mereka jalani di balik layar.

Pentingnya Literasi Hubungan yang Sehat

Pencegahan child grooming membutuhkan lebih dari sekadar larangan. Anak dan remaja perlu dibekali pemahaman tentang batasan, persetujuan, dan hubungan yang setara. Mereka perlu tahu bahwa cinta tidak menuntut pengorbanan diri, tidak membungkam suara, dan tidak mengisolasi. Saling menjaga satu sama lain serta menjalani hubungan yang positif harus selalu ditanamkan oleh masing-masing pasangan.

Karya tulis dalam buku Broken Strings berperan penting sebagai bahan refleksi. Ia membuka ruang dialog, membantu pembaca, terutama generasi muda, mengenali pola relasi yang tidak sehat dan menyadari bahwa luka mereka valid. Melalui buku ini pula menjadi bekal untuk para korban lainnya yang mungkin merasa pernah di posisi tokoh agar menjadi bahan refleksi, bahwasanya mereka tidak sendiri dan setidaknya meringankan rasa trauma yang mereka  alami sampai sekarang ini akibat child grooming.

Akhir Kata

Cinta seharusnya membebaskan, bukan mengikat dengan rasa takut. Pacaran seharusnya menjadi ruang tumbuh, bukan jerat yang mematahkan. Anak bukan objek relasi romantis orang dewasa, melainkan individu yang harus dilindungi.

 

Nama : Carmelita Dalia Pauno

Prodi : Hubungan Internasional

Angkatan : 2025

You Might Also Like

Nuansa Nasional di Politik Kampus

Dana Rp200 Triliun untuk Stabilitas: Solusi Nyata atau Hanya Janji Semata?

Ketika Bendahara Negara Angkat Kaki: Stabilitas Bukan Lagi Sekadar Janji

Kartini Modern dalam Perspektif Mahasiswa Ilmu Pemerintahan

Ketika Keperawanan Masih Menjadi Alat Ukur Moralitas Perempuan

FISIPERS UNMUL January 16, 2026
Share this Article
Facebook TwitterEmail Print
Previous Article MPM FISIP UNMUL Menggugat PEMIRA KM : Dugaan Adanya Indikasi Pelanggaran
Next Article Aksi Pencerdasan oleh Mahasiswa FISIP UNMUL : Tolak Wacana Pilkada oleh DPRD

Stay Connected

Instagram Follow
Youtube Subscribe

Latest News

Aksi Pencerdasan oleh Mahasiswa FISIP UNMUL : Tolak Wacana Pilkada oleh DPRD
Berita
Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
Opini
MPM FISIP UNMUL Menggugat PEMIRA KM : Dugaan Adanya Indikasi Pelanggaran
Berita Seputar FISIP
FISIP PEDULI : Mahasiswa FISIP Lakukan Galang Dana Untuk Bencana Banjir & Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar
Berita Seputar FISIP
//

Resmi didirikan pada tahun 2022, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS merupakan unit kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang berfokus pada bidang jurnalistik dan multimedia.

Menu Lainya

  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • GALERI

Kategori

  • BERITA
  • SEPUTAR FISIP
  • EDUKASI
  • EVENT
  • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • OPINI
February 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

Selamat Datang Di FISIPERS

Good News, Good Ideas!

https://fisipers.fisip.unmul.ac.id

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?