FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Home
  • Berita
  • Opini
  • Seputar FISIP
  • Kategori Lainya
    • Edukasi
    • Event
    • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Pages
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Galeri
Reading: Kartini Modern dalam Perspektif Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Share
Notification Show More
Latest News
Aksi Pencerdasan oleh Mahasiswa FISIP UNMUL : Tolak Wacana Pilkada oleh DPRD
January 20, 2026
Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
January 16, 2026
MPM FISIP UNMUL Menggugat PEMIRA KM : Dugaan Adanya Indikasi Pelanggaran
December 18, 2025
FISIP PEDULI : Mahasiswa FISIP Lakukan Galang Dana Untuk Bencana Banjir & Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar
December 10, 2025
Nuansa Nasional di Politik Kampus
December 5, 2025
Aa
Aa
FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Berita
  • Seputar FISIP
  • Edukasi
  • Event
  • Opini
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Categories
    • Seputar FISIP
    • Opini
    • Berita
    • Hiburan dan Gaya Hidup
    • Event
    • Edukasi
  • Bookmarks
  • Lainya
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Galeri
Have an existing account? Sign In
  • Advertise
© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
FISIPERS - Good News, Good Ideas > Blog > Opini > Kartini Modern dalam Perspektif Mahasiswa Ilmu Pemerintahan
Opini

Kartini Modern dalam Perspektif Mahasiswa Ilmu Pemerintahan

FISIPERS UNMUL
By FISIPERS UNMUL Published April 23, 2025
Last updated: 2025/05/03 at 1:20 PM
Share
SHARE

Setiap bulan April, kita memperingati Hari Kartini sebagai momen refleksi atas perjuangan seorang perempuan luar biasa yang suaranya melampaui zamannya. Raden Ajeng Kartini, dengan pena dan pikirannya, menantang batas-batas tradisi yang mengekang perempuan untuk belajar, berpikir, dan bermimpi. Dalam konteks masa kini, memperingati Kartini bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi juga membaca ulang semangatnya dalam realitas sosial-politik hari ini. Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya memandang bahwa Kartini modern adalah perempuan yang aktif memperjuangkan kesetaraan dalam sistem pemerintahan yang sering kali masih bias gender.

Perempuan Indonesia kini memiliki akses lebih luas dalam pendidikan, karier, dan partisipasi politik. Kita melihat semakin banyak perempuan menduduki posisi strategis: menjadi menteri, kepala daerah, anggota legislatif, bahkan pemimpin gerakan masyarakat sipil. Namun, harus diakui, jumlah bukanlah satu-satunya indikator keberhasilan emansipasi. Masih banyak hambatan struktural yang membuat perempuan kesulitan mendapat ruang yang setara—terutama dalam dunia politik dan pemerintahan.

Sebagai mahasiswa yang belajar tentang sistem kekuasaan, kebijakan publik, dan dinamika kelembagaan, saya menyadari bahwa keberadaan perempuan dalam pemerintahan sering kali belum sepenuhnya mencerminkan inklusivitas. Kuota 30% perempuan dalam parlemen, misalnya, masih lebih sering menjadi alat pencitraan politik daripada ruang aktual untuk memperjuangkan kebijakan responsif gender. Banyak perempuan politisi yang masih dibayangi peran simbolis, bukan sebagai pengambil kebijakan sejati.

Dalam hal ini, Kartini modern bukan hanya perempuan yang berhasil menembus jabatan publik, tetapi juga perempuan yang membawa semangat kritis dan transformatif ke dalam sistem. Ia memahami bahwa representasi politik harus dibarengi dengan keberanian untuk bersuara, menggugat ketidakadilan, dan memperjuangkan kelompok rentan termasuk sesama perempuan yang masih termarjinalkan.

Mahasiswa, khususnya dari Ilmu Pemerintahan, memiliki peran penting dalam mendorong perubahan ini. Kita bukan hanya calon birokrat atau analis kebijakan, tapi juga agen perubahan yang paham akar masalah ketimpangan. Kita bisa menjadi bagian dari gerakan intelektual yang mendorong tata kelola yang lebih adil gender. Kita bisa meneliti, menulis, dan mengadvokasi kebijakan yang inklusif. Dan tentu saja, kita juga bisa menginspirasi sesama mahasiswa untuk melihat bahwa politik bukan dunia milik laki-laki semata.

Di kampus pun, tantangan masih terasa. Perempuan mahasiswa kerap menghadapi stereotip bahwa mereka tidak cocok menjadi pemimpin organisasi, atau bahwa ambisi politik perempuan adalah sesuatu yang “berlebihan”. Di sinilah semangat Kartini harus hadir dalam keberanian perempuan untuk memimpin, untuk bersuara, untuk mengambil peran aktif dalam ruang-ruang yang selama ini didominasi oleh laki-laki.

Kartini modern juga memanfaatkan teknologi sebagai alat perjuangan. Media sosial kini menjadi ruang ekspresi sekaligus arena perjuangan digital. Kita menyaksikan banyak mahasiswa perempuan yang aktif mengedukasi publik, melawan kekerasan berbasis gender, dan membongkar narasi patriarki yang masih kuat di masyarakat. Ini adalah bentuk baru dari pena Kartini, yang dulu menulis surat, kini bersuara lewat thread Twitter, Instagram, hingga podcast.

Namun, perjuangan ini tak boleh dibebankan kepada perempuan saja. Mahasiswa laki-laki pun harus mengambil bagian, menjadi sekutu yang mendukung kesetaraan, bukan pesaing yang merasa tersaingi. Karena feminisme bukan upaya mengangkat perempuan di atas laki-laki, tetapi memperjuangkan keadilan bagi semua.

Sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan, saya percaya bahwa perubahan struktural dimulai dari keberanian personal. Dari ruang kelas hingga ruang parlemen, dari diskusi kampus hingga forum kebijakan, semangat Kartini harus terus hidup dalam cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kartini modern adalah perempuan yang tidak diam.

Kartini modern adalah mahasiswi yang kritis.

Dan kita semua laki-laki maupun perempuan punya tanggung jawab untuk menjadikan sistem pemerintahan kita lebih adil, inklusif, dan setara.

 

Penulis : Rossa Tri Rahmawati Bahri

Prodi : Ilmu Pemerintahan (2023)

 

You Might Also Like

Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings

Nuansa Nasional di Politik Kampus

Dana Rp200 Triliun untuk Stabilitas: Solusi Nyata atau Hanya Janji Semata?

Ketika Bendahara Negara Angkat Kaki: Stabilitas Bukan Lagi Sekadar Janji

Ketika Keperawanan Masih Menjadi Alat Ukur Moralitas Perempuan

FISIPERS UNMUL April 23, 2025
Share this Article
Facebook TwitterEmail Print
Previous Article Ketika Keperawanan Masih Menjadi Alat Ukur Moralitas Perempuan
Next Article UKM KPM FISIP Unmul Berkolaborasi dengan WCD Samarinda: 269 Kg Sampah Terkumpul untuk Hari Bumi

Stay Connected

Instagram Follow
Youtube Subscribe

Latest News

Aksi Pencerdasan oleh Mahasiswa FISIP UNMUL : Tolak Wacana Pilkada oleh DPRD
Berita
Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings
Opini
MPM FISIP UNMUL Menggugat PEMIRA KM : Dugaan Adanya Indikasi Pelanggaran
Berita Seputar FISIP
FISIP PEDULI : Mahasiswa FISIP Lakukan Galang Dana Untuk Bencana Banjir & Longsor di Aceh-Sumut-Sumbar
Berita Seputar FISIP
//

Resmi didirikan pada tahun 2022, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS merupakan unit kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang berfokus pada bidang jurnalistik dan multimedia.

Menu Lainya

  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • GALERI

Kategori

  • BERITA
  • SEPUTAR FISIP
  • EDUKASI
  • EVENT
  • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • OPINI
February 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  
« Jan    

© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

Selamat Datang Di FISIPERS

Good News, Good Ideas!

https://fisipers.fisip.unmul.ac.id

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?