FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Home
  • Berita
  • Opini
  • Seputar FISIP
  • Kategori Lainya
    • Edukasi
    • Event
    • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Pages
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Galeri
Reading: “Kartini Modern: Bukan Soal Pakaian, Tapi Perjuangan dan Kesetaraan”
Share
Notification Show More
Latest News
Aksi Cipta Sungkawa : Mahasiswa Soroti Insiden Kekerasan Aparat terhadap Warga Sipil
March 3, 2026
Child Grooming dan Tanggung Jawab Sosial : Dimana kah Peran Masyarakat?
March 1, 2026
Keselamatan Terabaikan : Ada apa dengan Akses dan Fasilitas di FISIP?
March 1, 2026
Reflektivitas Terhadap Jadwal Perkuliahan di FISIP UNMUL Selama Bulan Ramadhan 1447 Hijriah
February 21, 2026
Buah Semangat Membawa FISIP ke Final NCFS Regional Samarinda
February 17, 2026
Aa
Aa
FISIPERS - Good News, Good IdeasFISIPERS - Good News, Good Ideas
  • Berita
  • Seputar FISIP
  • Edukasi
  • Event
  • Opini
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Categories
    • Seputar FISIP
    • Opini
    • Berita
    • Hiburan dan Gaya Hidup
    • Event
    • Edukasi
  • Bookmarks
  • Lainya
    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Galeri
Have an existing account? Sign In
  • Advertise
© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman
FISIPERS - Good News, Good Ideas > Blog > Opini > “Kartini Modern: Bukan Soal Pakaian, Tapi Perjuangan dan Kesetaraan”
Opini

“Kartini Modern: Bukan Soal Pakaian, Tapi Perjuangan dan Kesetaraan”

FISIPERS UNMUL
By FISIPERS UNMUL Published April 23, 2025
Last updated: 2025/05/03 at 1:14 PM
Share
SHARE

Di era modern ini, sosok Kartini seringkali dipahami secara terbatas hanya dari sisi penampilannya, seperti kebaya dan jarik yang menjadi ciri khasnya. Padahal, makna perjuangan Kartini jauh lebih luas dan tetap relevan bagi generasi masa kini. Menjadi Kartini modern bukan soal busana tradisional semata, melainkan tentang semangat untuk memperjuangkan kesetaraan gender, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Melihat Kartini dalam konteks zaman sekarang berarti menghargai gagasan dan nilai perjuangannya, bukan hanya fokus pada simbol-simbol budaya yang melekat pada dirinya.

Kartini merupakan tokoh pemikir yang membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk meraih hak atas pendidikan dan kebebasan dalam menyuarakan pendapat. Di masa hidupnya, perempuan mengalami banyak pembatasan, baik dalam akses terhadap pendidikan maupun keterlibatan dalam kehidupan sosial. Lewat pemikiran-pemikirannya, Kartini menantang sistem patriarki yang membatasi potensi perempuan, baik secara intelektual maupun sosial. Karena itulah, perjuangan Kartini sesungguhnya adalah perjuangan melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, bukan sekadar tentang busana tradisional yang ia kenakan. Dalam kehidupan masa kini, semangat tersebut terus hidup lewat berbagai upaya untuk menghapus diskriminasi gender di berbagai sektor, seperti pendidikan, dunia kerja, serta hak-hak politik dan sosial perempuan.

Perlu disadari bahwa kebaya dan pakaian tradisional yang sering dikaitkan dengan sosok Kartini hanyalah sebagian kecil dari jati dirinya. Terlalu menitikberatkan pada aspek visual seperti pakaian justru bisa mengaburkan makna perjuangan sejati yang ia bawa. Kartini masa kini seharusnya dipahami sebagai figur yang memberi inspirasi bagi perempuan untuk berani bermimpi, mengejar pendidikan, dan turut serta dalam membangun bangsa tanpa terhalang oleh stereotip gender maupun norma sosial yang membatasi. Perempuan yang membawa semangat Kartini di era sekarang adalah mereka yang berani mengambil peran, memperjuangkan kesetaraan, dan menegakkan hak-haknya di berbagai bidang kehidupan.

Selain itu, semangat perjuangan Kartini tetap relevan di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang kini membuka berbagai peluang sekaligus tantangan baru bagi perempuan. Di era digital ini, perempuan memiliki akses yang lebih luas untuk menimba ilmu, berkarya, dan berinovasi. Namun, mereka juga dihadapkan pada bentuk-bentuk diskriminasi dan kekerasan yang muncul, baik di ruang fisik maupun di dunia maya. Menjadi Kartini modern bukan sekadar memakai kebaya sebagai simbol budaya, tetapi juga menunjukkan keberanian dan kemampuan untuk bersaing secara adil di tingkat global. Hal ini mencakup perjuangan untuk mendapatkan akses pendidikan di bidang STEM, peran kepemimpinan, serta pengakuan atas kontribusi perempuan di berbagai lini kehidupan.

Lebih dalam lagi, perjuangan Kartini masa kini bukanlah tanggung jawab perempuan saja, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk laki-laki. Kesetaraan gender adalah isu kolektif yang membutuhkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak. Menghidupkan semangat Kartini berarti menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana perempuan dan laki-laki bisa bekerja berdampingan tanpa diskriminasi, saling menghargai, dan mendorong kemajuan satu sama lain. Salah satu kunci utamanya adalah pendidikan sejak dini yang menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan.

Dari sisi budaya, Kartini modern mengajarkan bahwa mempertahankan identitas tidak harus menjadi hambatan bagi kemajuan. Mengenakan kebaya bisa menjadi wujud penghormatan terhadap warisan budaya, namun semangat yang dibawa harus tetap terbuka terhadap perubahan yang inklusif. Perempuan masa kini bebas memilih untuk tampil dalam balutan tradisional atau gaya modern yang terpenting adalah bagaimana mereka memperjuangkan hak, kebebasan, dan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah wujud nyata penghormatan terhadap perjuangan Kartini yang sesungguhnya.

Secara keseluruhan, sosok Kartini modern merepresentasikan perjuangan yang terus berkembang dan bernyawa. Ia menjadi pengingat bahwa kesetaraan gender bukan hanya sekadar semboyan, tetapi sebuah perjalanan panjang yang menuntut keberanian, konsistensi, dan upaya nyata. Perempuan masa kini yang membawa semangat Kartini adalah mereka yang berani menghadapi ketidakadilan, memperjuangkan hak-haknya, dan ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan bangsa. Oleh karena itu, memperingati Kartini tidak cukup hanya dengan mengenakan kebaya atau mengikuti acara formal, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dalam menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh perempuan Indonesia. Inilah makna sejati perjuangan Kartini yang tetap relevan dari masa ke masa.

 

Penulis: Maulidina Erta Sefhira

Prodi : Ilmu Pemerintahan Angkatan 2023

You Might Also Like

Pacaran yang Membungkam Suara Anak : Refleksi Child Grooming dari Buku Broken Strings

Nuansa Nasional di Politik Kampus

Dana Rp200 Triliun untuk Stabilitas: Solusi Nyata atau Hanya Janji Semata?

Ketika Bendahara Negara Angkat Kaki: Stabilitas Bukan Lagi Sekadar Janji

Kartini Modern dalam Perspektif Mahasiswa Ilmu Pemerintahan

FISIPERS UNMUL April 23, 2025
Share this Article
Facebook TwitterEmail Print
Previous Article Kartini Modern: Bersuara di Tengah Tantangan Zaman
Next Article Menciptakan Ruang Bebas untuk Sang Dewi

Stay Connected

Instagram Follow
Youtube Subscribe

Latest News

Aksi Cipta Sungkawa : Mahasiswa Soroti Insiden Kekerasan Aparat terhadap Warga Sipil
Berita
Child Grooming dan Tanggung Jawab Sosial : Dimana kah Peran Masyarakat?
Berita
Keselamatan Terabaikan : Ada apa dengan Akses dan Fasilitas di FISIP?
Berita Seputar FISIP
Reflektivitas Terhadap Jadwal Perkuliahan di FISIP UNMUL Selama Bulan Ramadhan 1447 Hijriah
Berita Seputar FISIP
//

Resmi didirikan pada tahun 2022, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS merupakan unit kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang berfokus pada bidang jurnalistik dan multimedia.

Menu Lainya

  • TENTANG KAMI
  • KONTAK
  • GALERI

Kategori

  • BERITA
  • SEPUTAR FISIP
  • EDUKASI
  • EVENT
  • HIBURAN DAN GAYA HIDUP
  • OPINI
April 2026
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

© 2026 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) FISIPERS - Fakulltas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman

Selamat Datang Di FISIPERS

Good News, Good Ideas!

https://fisipers.fisip.unmul.ac.id

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?