FISIPERS – Di tengah bulan Ramadhan, perkuliahan di FISIP UNMUL tetap berlangsung namun dengan jadwal dan sistem yang sedikit berbeda. Hal ini tentunya mengharuskan mahasiswa serta para tenaga pendidik untuk beradaptasi dengan jadwal perkuliahan yang baru. Jadwal tersebut berlaku selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah dan mulai berlaku sejak tanggal 19 Februari 2026 setelah surat edaran dalam bentuk digital yang disebarkan satu hari sebelumnya.
Surat edaran tersebut didasari oleh Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2023 tentang Hari Kerja dan Jam Kerja Instansi Pemerintah dan Pegawai Aparatur Sipil Negara dan Surat Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Nomor 800/UN17/KP/2026 tanggal 13 Februari 2026 perihal Jam Kerja Selama Bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Berdasarkan edaran yang ditandatangani oleh Wakil Rektor UNMUL bidang akademik yaitu Prof. Dr. Lambang Subagiyo., M.Si, dalam rangka peningkatan kualitas Ibadah Puasa pada Bulan Ramadhan 1447 Hijriah, terdapat 3 poin penting terkait perubahan jadwal perkuliahan di UNMUL yang meliputi :
- Perkuliahan dari tanggal 19 Februari s/d 06 Maret 2026 sesuai dengan edaran dimulai dari jam 08.00 WITA s/d 15.00 WITA dengan sistem tatap muka/offline.
- Perkuliahan tanggal 09 s/d 13 Maret 2026 perkuliahan dapat dilaksanakan secara Daring/Online dan;
- Perkuliahan tanggal 25 s/d 27 Maret 2026 perkuliahan dapat dilaksanakan secara Daring/Online.
Sebab perkuliahan tatap muka (offline) dimaksimalkan hanya sampai pukul 15.00 WITA, maka jadwal perkuliahan disesuaikan dengan dikurangi 25 menit untuk per sesi.
Hal-hal tersebut tentunya berdampak kepada para mahasiswa maupun tenaga pendidik. Seperti yang dirasakan oleh Harry Isra Muhammad, S.S, M.A salah satu dosen FISIP UNMUL.
“Tapi kalau saya pribadi, saya nggak bisa ngajar online, dan saya merasa pembelajaran di bulan puasa ini kurang efektif karena waktunya sangat terbatas. Dan yang terjadi adalah, ya tadi saya ngajar ‘Loh, udah selesai?’, sementara semua materi saya belum saya jelaskan, baru setengah. Jadi nanggung, sangat-sangat nanggung menurut saya dengan waktu yang begitu,” tutur Harry menjelaskan kendalanya, Jumat (20/2).

Menurutnya, pengurangan waktu kegiatan belajar mengajar tersebut menjadi kurang efektif sebab waktu untuk mengajar menjadi tidak tercukupi. Selain itu, pembelajaran online juga terasa tidak efektif sebab kurangnya interaksi, terlebih apabila mahasiswa tidak menyalakan kamera.

Selain jam pembelajaran yang menjadi kurang efektif karena dikurangi, Harry juga menyatakan, “Iya, karena menurut saya bukan nggak efektif ya, kurang efektif. Karena tadi gitu loh, di satu sisi kita capek, di satu sisi juga mahasiswanya juga capek, iya kan? Dan di sisi lain juga karena waktunya mepet, nggak cukup untuk membawakan materi, nggak maksimal.”
Pernyataan tersebut selaras dengan pendapat dari dua mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024 yaitu Azka Nur Khalila dan Nur Qadira yang memberikan pendapatnya bahwa perubahan jadwal kuliah tersebut juga terasa kurang efektif. Namun, bersamaan dengan itu pengurangan jam kuliah juga memberikan keuntungan bagi mahasiswa agar dapat beristirahat lebih banyak.
“Sebenarnya kalau dari keefektifan kuliah, itu nggak efektif banget. Waktunya dipotong sekitar 25 menit dari waktu yang seharusnya. Karena nyatanya, kegiatan perkuliahan di hari biasa tanpa pemotongan jam pun sering tidak cukup waktunya. Jadi kendala di waktu yang sangat kurang sementara kita harus mengejar materi agar cepat mencapai tujuan mata kuliah,” tutur Dira, Kamis (19/2).
Azka dan Dira juga menjelaskan tantangan yang mereka hadapi sebagai mahasiswa pada bulan suci Ramadhan. “Soal tantangan, pasti ada, entah dari segi fisik maupun emosional selama bulan ramadhan, namun itu wajar ajaa, karena bagi yang menjalankan itu adalah hal yang cukup harus di tahan, contohnya seperti menahan hawa nafsu,” ujar Azka.

Sependapat dengan hal tersebut, Dira turut menyampaikan pendapatnya, “Kalau tantangannya itu ngantuk dan ngerasa energiku cepet abis, kadang aku ngerasa kurang fokus selama belajar.”
Meskipun mereka merasa pengurangan jam kuliah dapat memberikan waktu lebih untuk mereka beristirahat sebab bisa pulang lebih awal, mereka juga menyetujui hal tersebut kurang efektif jika dilihat dari sudut pandang pembelajaran.
Sebagai dosen, Harry juga menyampaikan saran dan solusi lain terkait jadwal perkuliahan selama bulan Ramadhan. Menurut Harry, daripada melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online untuk mengejar jadwal pertemuan, lebih baik memberikan tugas atau pembelajaran mandiri. “Jadi menurut saya alternatifnya pembelajaran mandiri tapi dengan arahan yang jelas dan clear yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran dan sesuai dengan RPS (Rencana Pembelajaran Semester).”
(faa/isy/swa)

