FISIPERS – Sejumlah fasilitas umum di FISIP UNMUL telah mengalami kerusakan pada tahun 2026 ini, di antaranya toilet perempuan di Gedung D3 serta tangga menuju Musholla FISIP. Kondisi tersebut memicu keluhan dari sejumlah mahasiswa karena dinilai dapat menimbulkan potensi risiko keselamatan bagi pengguna. Hingga kini, perbaikan terhadap fasilitas yang rusak belum menunjukkan tindak lanjut yang jelas dari pihak fakultas.
Mahasiswa sebagai pengguna utama fasilitas di FISIP UNMUL menilai kondisi tangga penghubung Musholla FISIP tidak aman akibat permukaannya yang licin, berlumut, struktur anak tangga yang curam, serta keretakan pada beberapa bagian anak tangganya. Sejumlah mahasiswa melaporkan pernah terpeleset, tersandung, hingga hampir terjatuh saat melintasi tangga tersebut.

Bahkan terdapat kejadian mahasiswa terjatuh dan mengalami cedera ringan akibat kondisi anak tangga yang retak, sementara mahasiswa lain mengaku harus berjalan sangat pelan dan teliti untuk menghindari risiko terjatuh. Diantaranya adalah Zahra dan Syam mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2025 yang mengutarakan pendapat mereka terkait tangga tersebut.
“Teman aku pas ospek KPMF juga ada yang jatuh disitu, karena memang belumut disitu selain dia kayak ada longsoran gitu, itu juga licin, apalagi kalau buru-buru disitu pasti kayak mau jatuh gitu. Kemaren aku lihat runtuhannya itu lebih parah lagi dari pas terakhir aku ospek KPMF,” tutur Zahra, (26/2).
Syam juga menambahkan, “nah kalau menurut aku sih, beresiko banget ya soalnya kadang tuh beberapa kali juga pas hujan atau habis hujan lewat situ, itu jadi licin gitu karena beberapa tempatnya juga langsung kena air hujan dan beberapa juga sampe lumutan, nah kalau gak hati hati itu sampai terpeleset setengah gitu.”

Berbeda dengan Zahra dan Syam yang hanya menjadi saksi mata, Nisa yang merupakan salah satu mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2025 juga telah menjadi korban dari tangga tersebut.
“Kondisi tangga tersebut memang cukup berisiko. Saya sendiri pernah tersandung saat melewati itu. Anak tangganya cukup tinggi, banyak keretakan, dan cukup curam. Apalagi karena posisinya di area outdoor, saat hujan tangga tersebut jadi licin dan berlumut. Meskipun sudah ada pegangan, tetap saja ada potensi membahayakan bagi mahasiswa yang melintas, terutama jika sedang terburu-buru. Saya yang jalannya pelan-pelan saja bisa jatuh,” ujar Nisa menjelaskan, (27/2).
Di sisi lain, kerusakan toilet perempuan di Gedung D3 FISIP turut memperkuat persoalan akses dan fasilitas FISIP yang rusak. Beberapa mahasiswa melaporkan toilet yang terletak di gedung D3 bagian bawah tidak dapat digunakan sebab kondisinya yang rusak.

Pada 26 Februari 2026, pewarta FISIPERS mewawancarai Merry dan Nayya, mahasiswi Administrasi Publik angkatan 2025 selaku pengguna toilet perempuan tersebut. Nayya menyampaikan, “menurut saya ya wc itu kan kebutuhan dasar, bukan fasilitas tambahan. kalau sampai rusak dan terkesan dibiarkan, kondisi ini bukan cuman soal kerusakan fisik tapi juga menunjukkan bahwa sistem pengelolaan dan pengawasan fasilitas belum berjalan maksimal. dalam konteks administrasi kebijakan kampus seharusnya ada mekanisme perawatan dan respons cepat terhadap kerusakan fasilitas dasar kayak gini.”
“Mahasiswi jadi harus pergi ke toilet lain yang agak jauh dari kelas dan itu agak merepotkan, kasian juga kalau udah kebelet banget terus terlanjur buang air disana dan tiba-tiba wc nya rusak atau mati,” ujar Merry.
Akibatnya, permasalahan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, terutama dalam situasi mendesak. Tentunya hal tersebut tak hanya memengaruhi aspek kenyamanan mahasiswi, namun juga memengaruhi efisiensi waktu mahasiswi yang harus mencari toilet di gedung lain.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2025, Jessica, juga menyampaikan bahwa kerusakan toilet perempuan membuat mahasiswa harus berpindah ke gedung lain hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi tersebut dianggap cukup merepotkan dan menguras waktu, terutama ketika mahasiswa berada di tengah jadwal perkuliahan yang padat.
“Kalau misalnya lagi kebelet, terus butuh WC secepatnya kan harus pindah gedung. Ribet, jujur,” ujarnya.
Jessica juga menyebutkan fasilitas pendukung seperti tombol flush, gantungan tas, serta kebersihan dinilai kurang memadai. Ia berharap perbaikan dapat segera dilakukan.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, pihak pengelola fasilitas menyebutkan bahwa kendala utama perbaikan terletak pada anggaran dan mekanisme birokrasi. Siti Mutmainnah selaku Ketua Sub Pokja Umum dan BMN (Barang Milik Negara) menjelaskan bahwa timnya hanya melakukan pengecekan lapangan serta pengajuan perbaikan, sementara keputusan berada di tangan pimpinan dan bergantung pada ketersediaan anggaran tahunan.
Pihak pengelola fasilitas kampus menyampaikan bahwa penanganan kerusakan fasilitas-fasilitas tersebut bergantung pada adanya pelaporan serta ketersediaan anggaran untuk perbaikan. Proses perbaikan sendiri harus melalui perencanaan dan persetujuan anggaran oleh pihak fakultas, sehingga penanganan tidak selalu dapat dilakukan dalam waktu cepat.
“Kendalanya selalu di anggaran. Kami tim BMN hanya mengecek posisi di lapangan seperti apa. Ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai, kita sampaikan ke keuangan. Tapi keuangan kan dia punya rencana anggaran dari awal,” ujar Siti Mutamainnah, (27/2).

Ia juga menjelaskan terkait pelaporan kerusakan, sebenarnya nomor kontak BMN telah diletakkan di setiap ruang kelas. Mahasiswa dapat langsung menghubungi nomor tersebut apabila menemukan fasilitas yang mengalami kerusakan tanpa harus datang langsung ke kantor BMN. “Di dekat TV tuh ada kontaknya BMN di situ. Jadi ketika nanti ada masalah dengan proyektor, TV. enggak harus ke BMN, jauh-jauh datang ke BMN. Kontaknya itu aja di telepon,” ujar Siti Mutmainnah.
Siti Mutmainnah juga menyampaikan bahwa, “WC itu saya baru taunya dari sampeyan kemarin cerita sebelum memulai wawancara ini, karena selama ini tiap kelas-kelas itu kami sudah pajang kontaknya BMN, tetapi tidak ada keluhan tentang WC. Kami belum ada informasi, belum ada keluhan. Jadi belum ada tindak lanjut dari kami.”
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemeliharaan fasilitas, termasuk pengecekan rutin tanpa harus menunggu laporan. Fasilitas dasar seperti toilet yang layak dan akses tangga yang aman dinilai bukan hanya sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan esensial yang menyangkut kenyamanan serta keselamatan seluruh pengguna fasilitas FISIP UNMUL.
(nad/wfa/eny/faa)

